Pembelajaran di Internet Melalui Weblog

June 17th, 2008

Internet yang merupakan kepanjangan dari Interconection Networking atau juga yang telah menjadi International Networking merupakan suatu jaringan yang menghubungkan komputer di seluruh dunia tanpa dibatasi oleh jumlah unit menjadi satu jaringan yang bisa mengakses satu sama lain. Dengan internet tersebut, satu komputer dapat berkomunikasi secara langsung dengan komputer lain di berbagai belahan dunia. Satu hal yang merupakan kelebihan internet dibanding media lainnya adalah dalam hal ini internet dapat menembus batas ruang dan waktu. Internet juga dapat menembus dimensi kehidupan pemakainya.

Internet identik dengan cyberspace atau dunia maya. Dysson (dalam Wahyono, 2005: 23) memberikan suatu definisi cyberspace merupakan suatu ekosistem bioelektronik yang ada dimanapun ada telepon, kabel coaxial, fiber optik, atau elektromagnetik waves. Hal ini berarti bahwa tidak ada yang tahu pasti seberapa luas internet secara fisik, tetapi sebagai acuan, di tahun 2001 saja sebanyak 135 negara telah mempunyai akses, 54 kota di dunia adalah host utama dan hampir 72 juta orang melakukan koneksi terhadap dunia tersebut setiap hari. Dari definisi yang diberikan oleh Dysson di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang karakteristik dunia maya atau cyberspace tersebut dengan beberapa pengertian sebagai berikut:

  • Beroperasi secara virtual/maya. Di dalam dunia maya, dihuni oleh orang-orang yang saling berinteraksi, berdiskusi, dan bertukar pikiran, tetapi tanpa harus melakukan pertemuan secara fisik. Dan sebenarnya penghuni dunia maya tidak hanya manusia, tetapi termasuk di dalamnya adalah data, informasi, surat elektronik, ide-ide dan bahkan sampai pada ilmu pengetahuan. Di dunia maya berlalu-lalang data dan informasi yang dikirim dan diterima oleh orang-orang yang melakukan interaksi tersebut.
  • Dunia cyber selalu berubah dengan cepat. Karena interaksi yang dilakukan oleh hampir 72 juta orang dari seluruh dunia per harinya, dengan didukung kemudahan update data, maka perubahan yang terjadi dalam dunia cyber pun sangat cepat berubah. Situs-situs berita pun menyampaikan perubahan warta dalam hitungan detik.
  • Dunia maya tidak mengenal batas-batas teritorial. Penghuni cyberspace tercatat berasal lebih dari 135 negara yang melakukan interaksi tanpa mengenal batas teritorial. Di satu sisi hal itu membuat adanya kebebasan berdemokrasi tanpa harus terhambat oleh ruang dan waktu. Tetapi di sisi lain, penegakan hukum yang terjadi terhadap pelanggaran yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih sulit.
  • Orang-orang yang hidup dalam dunia maya tersebut dapat melaksanakan aktivitas tanpa harus menunjukkan identitasnya. Karena interaksi yang dilakukan dalam cyberspace tanpa melibatkan interaksi secara fisik, maka interaksi yang dilakukan pun tidak harus menunjukkan identitas yang sesungguhnya. Dalam berbagai langkah registrasi dan sign up untuk mengikuti aktifitas tertentu di internet, memang diminta untuk menuliskan identitas lengkap dari pelaku registrasi. Tetapi jika identitas palsu yang diberikan pun registrasi tetap bisa dilaksanakan dengan baik.
  • Informasi didalamya bersifat publik. Inilah yang disebut zaman informasi. Satu-satunya harta dalam cyberspace adalah intelektual yang bersifat publik, tidak dimiliki oleh siapa pun dan tidak ada otoritas bagi siapapun untuk menggunakannya hanya bagi dirinya sendiri.

Teknologi internet pada hakikatnya merupakan perkembangan dari teknologi komunikasi generasi sebelumnya. Media seperti radio, televisi, video, multimedia, dan media lainnya telah digunakan dan dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Apalagi media internet yang memiliki sifat interaktif, bisa sebagai media masa dan interpersonal, dan gudangnya sumber informasi dari berbagai penjuru dunia, sangat dimungkinkan menjadi media pendidikan lebih unggul dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, Khoe Yao Tung (dalam Isjoni, 2007: 15) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil guru yang memiliki sumber belajar yang penting di dunia.Menurut Budi Rahardjo, manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses sumber informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerja sama. Akses kepada sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan online, sumber literatur, akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi kuliah. Akses kepada narasumber bisa dilakukan komunikasi tanpa harus bertemu secara fisik. Sedangkan sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian bersama atau semacam membuat semacam makalah bersama.Penelitian di Amerika Serikat tentang pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk keperluan pendidikan diketahui memberikan dampak positif (Pavlik dalam Isjoni, 2005: 15). Studi lainnya dilakukan Center for Applied Special Technology (CAST) menyebutkan bahwa pemanfaatan internet sebagai media pendidikan menunjukkan positif terhadap hasil belajar peserta didik. Mengembangkan pembelajaran berbasis web yang efektif, memerlukan penerapan suatu pendekatan sistem dan prinsip-prinsip desain pembelajaran. Pendekatan sistem memberikan suatu kerangka kerja atau panduan kepada seorang pengembang untuk mendesain materi pembelajaran. Menerapkan suatu pendekatan sistem saja tidaklah cukup untuk berhasil mengembangkan pembelajaran berbasis web. Guna mendapatkan desain materi pembelajaran efektif, pengembang harus berpegang pada prinsip-prinsip desain pembelajaran. Bila ini dilakukan akan memberikan keyakinan bahwa materi pembelajaran yang dikembangkan memang berorientasi kepada siswa atau peserta didik dan akan meningkatkan efektivitas materi yang disajikan. Dengan suatu pemahaman yang jelas mengenai tipe pengguna sistem akan menunjang seseorang dalam mendesain suatu sistem yang efektif, interaktif, dan berguna.Pada perkembangan internet, diberikan fasilitas dan berbagai layanan baru yang disebut layanan informasi (information service), salah satunya adalah blog. Blog adalah kependekan dari weblog. Banyak yang mengatakan bahwa blog merupakan personal diary yang bisa diakses secara online di internet. Secara sederhana, blog juga dapat disebut sebagai website pribadi. Seseorang bisa menuliskan catatan atau artikelnya pada bagian on-going dan artikel terbaru akan muncul di bagian paling atas. Pengunjung dapat membaca artikel tersebut dan sekaligus memberi komentar. Komentarnya sendiri dapat diberikan secara langsung ataupun lewat jalur email yang telah disediakan. Salah satu sifat menonjol blog adalah update content yang selalu diperbaharui setiap hari oleh pengelolanya dengan topik-topik tertentu sesuai dengan keinginan. Informasi yang diberikan pengelola bisa berupa ide pribadi ataupun dikumpulkan dari situs atau sumber-sumber lain yang sesuai, atau bahkan bisa juga merupakan sumbangan dari user yang lain. Dari sudut pandang tertentu blog seringkali dinilai sebagai catatan harian karena mengeksplorasi pengalaman ataupun gagasan-gagasan individual yang dinilai layak dikemukakan untuk dikonsumsi pengguna lain secara umum. Menurut Wahyono (2005: 41), blog adalah �whatever you want�. Apapun yang diinginkan bisa dimasukkan dalam situs ini. Seperti catatan harian, biodata, ide-ide atau gagasan, berita, koleksi link, photo, dan lain sebagainya. Tidak ada format baku dalam pembuatan blog. Ada banyak model, dalam banyak bentuk dan ukuran untuk blog tersebut. Arti kata blog sendiri akan terus berkembang seiring dengan waktu dikarenakan keanekaragaman ide yang dimunculkan serta ide-ide baru dapat diciptakan dengan mudah.Awal tahun 1994 Justin Hll mengawali sejarah perkembangan blog dengan menciptakan website pribadinya yang disebut Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground. Itulah situs pertama yang menjadi cikal bakal blog seperti yang kita kenal sekarang. Istilah blog sendiri pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada tahun 1997. Jorn Barger menggunakan istilah weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu di-update secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik diserta dengan komentar-komentar mereka sendiri. Perkembangan lain dari blog yaitu ketika kemudian blog bahkan tidak lagi memuat link-link tapi berupa tulisan tentang apa yang seorang blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang ia lakukan sehari-hari. Hingga pada perkembangan terbaru, blog kemudian juga menjadi �diary online� yang bisa dibaca orang lain. Para blogger dengan sengaja mendesain blog-nya dan isinya untuk dinikmati orang lain.Aktivitas blog sering disebut dengan istilah bloging. Sedangkan individu-individu yang menjalankan situs blog tersebut, sering disebut dengan nama blogger. Dengan adanya otoritas individu di dalam pengelolaan blog, maka blog pun berkembang mencari bentuk sesuai dengan kemauan pembuatnya. Blog yang semula merupakan catatan perjalanan seseorang di internet, seperti misalnya link ke situs lain yang dikunjungi dan daianggap menarik, kemudian menjadi jauh lebih menarik daripada sebuah daftar link. Hal ini disebabkan karena para blogger biasanya memberikan komentar-komentar menarik, atau mengemukakan pendapat-pendapat pribadi mereka pada link yang mereka buat. Blog juga semakin berkembang karena adanya interaksi dari pengunjung blog tersebut.Dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Nita Yuanita (nita.goblogmedia.com), menyatakan bahwa 60% responden menyatakan mereka mengetahui link dari yang ada di blog lain. Ini menunjukkan semakin banyak sebuah blog di-link oleh website lain maka semakin besar kemungkinannya untuk dikunjungi pendatang baru. Semakin banyak dikunjungi artinya semakin banyak orang tahu tentang blog tersebut atau dengan kata lain blog tersebut semakin popular.Berdasarkan penelitian, hampir semua responden menyatakan akan berusaha mengenal blog baru tanpa langsung meninggalkan, meskipun kedatangannya tidak sengaja. Selanjutnya pengenalan sekilas suasana blog dari kombinasi pemilik blog, desain, dan posting. Dari sini 92% melanjutkan dengan membaca posting-posting yang ada, meskipun hanya 61% diantara pembaca yang menuliskan komentar atas posting tersebut, sisanya memilih untuk tidak berkomentar. Sisa 6% responden yang tidak membaca, hanya meninggalkan sapaan atau pesan singkat pada pemilik blog melalui tagboard/guestbook.Kunci keberhasilan kehidupan sebuah blog adalah banyaknya pengunjug yang mengunjungi blog tersebut. Semakin banyak pengunjung, maka akan semakin banyak terjadi interaksi dengan orang banyak. Para blogger juga diwakili oleh blog mereka mengekspresikan persahabatan, permusuhan dan seringkali melakukan perdebatan yang mereka muat dalam blog mereka masing-masing yang kemudian mereka link-kan pada opini awal yang mereka komentari.Blog adalah cara mudah untuk mengenal kepribadian seseorang blogger. Topik-topik apa yang ia sukai dan tidak dia sukai, apa yang dia pikirkan terhadap link-link yang dia pilih, apa tanggapannya pada suatu isu. Seluruhnya biasanya tergambar jelas dari blog-nya. Karena itu blog bersifat sangat personal.Blogger atau editor dari sebuah blog biasanya menerima pula kontribusi-kontribusi link nik dari para penikmat blog-nya. Beberapa website blog juga menerima feedback terhadap opini dan komentar dari link suatu artikel atau suatu isu yang dimuat. Oleh karena itu blog bersifat interaktif dan membentuk komunitas-komunitas para blogger yang saling melakukan link blog mereka satu sama lain. Komunitas blog membentuk sebuah percakapan yang dapat berkembang antara beberapa blog sekaligus sambil merujuk pada jawaban mereka di blog yang lainnya.Blog dapat dikategorikan sebagai e-learning, menurut Rosenberg (2001), e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Sebuah blog dapat dijadikan media belajar interaktif, misalnya sebuah komunitas guru/dosen di sebuah sekolahan/perguruan tinggi bersama-sama membuat blog yang isi atau konten sebuah blog menyangkut mata pelajaran yang diampu masing-masing guru/dosen. Kemudian ada siswa/mahasiswa yang mengakses blog tersebut, serta mengisi comment (komentar) di blog, sehingga terjadi komunikasi dalam sebuah blog tanpa di batasi sebuah protokoler antara guru/dosen dan murid/mahasiswa. Semakin banyak staf pengajar yang aktif nge-blog dengan materi informasi yang mendukung profesinya, maka pendidikan Indonesia dengan cepat majunya. Selain itu, dalam hal ini blog juga dapat menjadi media untuk mengungkapkan usul, komentar dan uneg-uneg seorang siswa/mahasiswa tentang sistem pengajaran yang ada di sekolah, sehingga pihak guru/dosen dan sekolah/perguruan tinggi dapat meningkatkan kinerja mereka sesuai yang diharapkan para peserta didik.Adapun tujuan dosen membuat blog antara lain:

  • Dosen dapat memanfaatkan blog sebagai media komunikasi dan publikasi diri
  • Menciptakan kemampuan pemanfaatan Informasi Communication Technology
  • Peran dan manfaat internet sebagai pusat sumber belajar yang “Powerfull“
  • Jembatan penghubung antara dosen dan mahasiswa(http://staff.blog.ui.edu/admin/files/2008/03/kenapa-blog.pdf)

Menurut Budhi (http://kangbudhi.wordpress.com/2007/12/01/manfaat-blog-sebagai-media-informasi/), kekuatan blog dalam dunia dalam dunia pendidikan antara lain:

  • Isinya bisa luas menyangkut banyak hal pengajaran
  • Bisa dijadikan ajang belajar menulis untuk menuangkan ide
  • Bukti portofolio seorang guru terkait profesionalitasnya
  • Relatif lebih hemat biaya
  • Menembus ruang & waktu
  • Bebas aturan alias suka-suka yg nulis (yg ada hanya etika atau aturan tidak tertulis)
  • Melepaskan kebiasaan formalitas untuk menghambur uang rakyat
  • Pengembangan proses pembelajaran yang ervariatif

Sedangkan menurut http://staff.blog.ui.edu/admin/files/2008/03/kenapa-blog.pdf, keuntungan menggunakan blog bagi dosen antara lain:

  • Media komunikasi dengan mahasiswa
  • Tempat untuk meletakkan research para dosen
  • Mencegah ketertinggalan dengan kampus digital
  • Sarana untuk saling berbagi ilmu
  • Memberikan materi kuliah melalui blog/dalam bentuk download zip/pdf
  • Sebagai media publikasi
  • Merupakan salah satu content yang diharapkan dapat mendukung proses belajar-mengajar yang bebas ruang dan waktu
  • Membuat para dosen berinteraksi dengan dunia nyata dan isu keseharian di masyarakat
  • Merupakan sarana pengelolaan pengetahuan

Dan keuntungan yang didapat oleh mahasiswa antara lain:

  • Mendapatkan materi kuliah, silabus, jurnal penelitian, pengumuman tugas, dll
  • Dapat lebih mengenal dan memahami dosen lebih baik
  • Posting mengenai materi seputar perkuliahan yang dapat membantu mahasiswa lebih memahami mata kuliah yang sedang ditempuh
  • Fasilitas belajar melalui materi quiz interaktif
  • Penambahan wawasan melalui karya-karya
  • Belajar dari kesalahan orang lain
  • Proses belajar tidak dititik beratkan di kelas, namun mahasiswa dituntut untuk belajar mandiri
  • Proses belajar berskala internasional

Oleh karena itu dengan adanya blog dapat memfasilitasi dosen untuk menulis. Karena ada fenomena bahwa dosen-dosen di universitas-universitas Indonesia sangat kurang produktivitasnya dalam menulis. Banyak alasan klise dibalik kurangnya produk tulisan dosen. Waktu yang sempit, pekerjaan administratif yang menumpuk dan menunggu untuk dikoreksi, dan sebagainya. Namun sekarang penghalang itu sudah bisa didobrak. Banyak dosen yang sudah memanfaatkan layanan informasi ini.Berdasarkan pengamatan dari beberapa blog milik dosen, dapat dilihat bahwa sebagian besar weblog dosen berisi tentang perannya, namun di sisi lain juga terdapat banyak tulisan tentang personal dan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan teori kebutuhan informasi menurut Wilson bahwa kebutuhan informasi manusia terbagi dalam tiga konteks, yaitu kebutuhan terkait dengan lingkungan seseorang (person’s environment), peran sosial yang disandang (social roles), dan karakteristik individu (individual characteristics) (Godbold, 2006).Salah satu kebutuhan terbesar manusia adalah memenuhi kebutuhan kognitifnya. Wilson mengartikan kebutuhan kognitif (cognitive needs) sebagai ‘need to find order and meaning in the environment’ (Eeva-Liisa: 1998). Kebutuhan ini berkaitan erat dengan motif seseorang untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman mengenai lingkungannya (Yusup, 1995).Sedangkan konteks kebutuhan informasi terkait peran sosial (social roles) memiliki hubungan erat dengan teori peran (role theory). Teori yang diperkenalkan oleh Biddle dan Thomas ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan pencarian informasi mereka menurut konteks sosial dalam sebuah sistem sosial (Marcs dan MacDermid dalam Prabha, 2007). Teori peran melihat bahwa perilaku individu akan lebih banyak ‘disetir’ oleh posisi sosial yang mereka tempati daripada karakter individu mereka sendiri. Begitu pula halnya dengan perilaku informasi mereka. Konteks kebutuhan informasi yang terakhir menurut Wilson adalah kebutuhan terkait dengan karakteristik personal (individual characteristics). Kebutuhan ini berkaitan erat dengan pemenuhan faktor-faktor kognitif, afektif, serta kebutuhan untuk memperoleh hiburan (escapist needs). Kebutuhan afektif adalah kebutuhan untuk menambah pengetahuan dan informasi terkait dengan lingkungan (Yusup, 1995). Dalam konteks ini, informasi yang diperoleh akan digunakan oleh seorang individu untuk memenuhi kebutuhan personalnya. Kebutuhan afektif menurut Katz, Grevitch, dan Haz adalah kebutuhan yang berhubungan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan, dan pengalaman-pengalaman emosional (Yusup, 1995). Sedangkan escapist needs merupakan kebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan, dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan (diversion) (Yusup, 1995). Kebutuhan pada dasarnya memiliki kaitan erat dengan faktor motivasi. Pemenuhan kebutuhan informasi dilatarbelakangi oleh adanya motivasi tertentu yang ada dalam diri individu. Kajian dan teori mengenai motivasi telah banyak dibahas oleh sejumlah pakar. Salah satu teori yang paling dikenal luas adalah teori motivasi yang dipelopori oleh Abraham Maslow pada tahun 1954, yaitu teori hirarki kebutuhan (hierarchy of needs).Maslow menyatakan bahwa manusia mempunyai pelbagai kebutuhan dan mencoba mendorong untuk bergerak memenuhi kebutuhan tersebut. Lima hirarki kebutuhan menurut Maslow sebagaimana yang dikutip oleh Suseno (2000) adalah kebutuhan: (1) faali (fisiologis): antara lain rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), seks dan kebutuhan ragawi lain, (2) keamanan: antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional, (3) sosial: mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, diterima baik, dan persahabatan, (4) penghargaan: mencakup faktor rasa hormat internal seperti harga-diri, otonomi, dan prestasi; dan faktor hormat eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian, (5) aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi; mencakup pertumbuhan, mencapai potensialnya, dan pemenuhan diri. Dikarenakan adanya kebutuhan informasi, maka di dalam diri seseorang termotivasi untuk menemukan informasi guna memenuhi kebutuhan informasinya tersebut serta mengekspresikannya. Dalam hal ini para dosen mengekspresikannya lewat blog.Berikut ini akan dipaparkan mengenai content dari weblog dosen. Dalam hal ini penulis mengambil sampel dosen ITB dengan asumsi bahwa mereka melek akan teknologi.

Armein Z. R. Langi yang merupakan dosen Teknik Elektro ITB. Ia sangat konsen dalam menulis. Setiap hari selalu ada tulisan baru. Dan tidak hanya satu, kadang bisa sampai lima tulisan. Adapun content dari blognya tidak hanya tentang pengetahuan mengenai bidang keilmuannya, tetapi juga kegiatannya, hobinya, humor, serta renungan. Dua hal itu jadi menu utama di blog-nya dimana joke-nya segar dan renungannya dalam.

Oemar Bakrie merupakan dosen yang konsen di bidang geofisika. Selain tentang profesinya, sebagian besar tulisannya tentang pengalamannya.

Arry Akhmad Arman yang merupakan dosen Teknik Elektro ITB. Sebagian besar tulisannya merupakan observasi permasalahan-permasalahan yang ada di Bandung dan opini atas permasalahan itu. Ternyata setelah ditelusur, Pak Arry lahir di Bandung, tumbuh besar di Bandung, sekolah sampai S3 di Bandung, menikah dengan orang Bandung, dan kini tinggal di Bandung.

Wakita Adijarto banyak menulis tentang informasi keilmuan, Islam, Imam Mahdi, Tasawuf, Bandung, hobi (burung), global warming, politik, serta teknologi. Uniknya di blog ini juga menyediakan tempat/link untuk mahasiswa dan alumni.

Joko Sarwono merupakan dosen Teknik Fisika ITB. Selain mengajar dan melakukan penelitian, ia juga memberikan konsultansi dan melakukan desain yang berkaitan dengan Akustika Ruangan dan Sistem Tata Suara. Hobby-nya memotret (photografi) dan menonton pertandingan sepakbola, terutama Liga Premier Inggris. Sehingga banyak tulisan yang berkaitan dengan hal tersebut serta beberapa dokumentasi perjalanan.Budi Rahardjo merupakan dosen Teknik Elektro ITB. Isi blog-nya seperti diary; menceritakan kegiatan sehari-hari, menampilkan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, serta menyajikan opini tentang berbagai masalah.Ketut Wikantika yang merupakan dosen Geodesi ITB. Sebagian besar isi dari tulisannya adalah informasi mengenai bidang keilmuannya, politik, serta lingkungannya (Bandung).Dari beberapa weblog milik dosen tersebut, dapat mengetahui gambaran bahwa isi dari tulisan di blog kalangan dosen tidak hanya mengenai profesi/peranannya, tetapi juga tentang lingkungan serta individu/personal (termasuk humor, cerita pribadi, pantun, sampai hobi). Meskipun demikian, dengan adanya weblog di kalangan dosen ini dapat memberikan gambaran mengenai informasi yang sesuai dengan kompetensinya. Sehingga dapat mempermudah komunikasi pembelajaran antara dosen dan mahasiswa.Meskipun mempunyai corak dan karakteristik yang berbeda pada tulisan para dosen di blog, tetapi tulisannya itu disambut positif oleh para surfers (pengunjung blog).Berikut ini terdapat beberapa comment (komentar) dari beberapa surfers.

â€?Menarik rasanya membaca blog-blog dosen tersebut. Memiliki latar belakang pendidikan yang sama (keempat-empatnya doktor di bidang elektro) dan latar belakang profesi yang samaâ€? (http://ericsonfp.wordpress.com/)â€?Lumayan, bisa dapet ilmu-ilmu dari mereka. Kita tunggu blog dari dosen-dosen yang lain…â€? (http://andhysukma.wordpress.com/)â€?Kita mengesampingkan penilaian dari sisi blog tersebutDari segi konten, memuat ide dan gagasan penulis dalam bidang ilmu yang selama ini ditekuni. Intensitas menulisnya bisa dibilang sering. Mungkin belum menjadi budaya dosen untuk menulis di media yang namanyablog. Padahal, jika bisa memanfaatkan media ini dengan baik, saya kira akan cukup menunjang/membantu kegiatan belajar mengajar. Ketika makna metode pembelajaran telah mengalami perkembangan sejalan perkembangan IT, maka blog dapat menjadi media alternatif untuk kegiatan perkuliahan.â€? (www.blogskinny.com)Dari beberapa komentar tentang keberadaan weblog dosen, maka layanan informasi ini dinilai sangat bermanfaat, khususnya para surfers (pengunjung weblog). Hal ini dikarenakan selain untuk menunjang kegiatan perkuliahan (dikarenakan tulisannya berisi bidang ilmu yang di ampu), para surfers juga bisa mengetahui karakteristik para blogger.

Perilaku Penemuan Informasi Staf Pengajar

June 17th, 2008

Menurut Belkin (1986) perilaku penemuan informasi dimulai dari adanya kesenjangan antara pengetahuan dan kebutuhan informasi yang diperlukannya dalam diri pencari informasi. Munculnya kesenjangan dalam diri seseorang tersebut akhirnya mendorong orang untuk mencari informasi guna mengatasi permasalahan yang dihadapinya (Kuhltau, 1991).

Seorang staf pengajar tentu sangat dekat dan membutuhkan informasi sebagai kebutuhan utama dalam menjalankan peranannya. Kebutuhan inilah yang pada akhirnya menjadi motif upaya penemuan informasi. Dalam konteks pembelajaran di perguruan tinggi kebutuhan informasi muncul dalam bentuk perilaku informasi staf pengajar dimana sumber informasi utamanya adalah perpustakaan.

Oleh sebab itulah dibangun perpustakaan di setiap perguruan tinggi sebagai salah satu sumber informasi utama yang bertujuan memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Salah satu kebijakan penting dalam pendidikan tinggi dalam kaitannya dengan kebutuhan informasi yang telah diwujudkan dalam bentuk peraturan tertulis adalah PP No. 30 Tahun 1990 tentang pendidikan tinggi yang mana dalam lebih dari enam (6) pasalnya memuat pembahasan/ peraturan mengenai perpustakaan. Peraturan tersebut menyatakan bahwa perpustakaan adalah unsur penunjang yang perlu ada pada semua bentuk perguruan tinggi, mulai dari universitas, institut, sekolah tinggi, poltek dan akademi (Septiantono, 2003 dalam Hardi, 2005). Koleksi yang disediakan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu perpustakaan perguruan tinggi wajib mengetahui semua program studi yang dilaksanakan serta kebutuhan informasi dari masing-masing jenjang dan jurusan (perpustakaan nasional RI, 1998 dalam Hardi, 2005).

Idealnya, perpustakaan memahami kebutuhan informasi civitas akademika, yaitu: bahan literatur apakah yang faktual dibaca (in fact read) dan apakah yang seharusnya dibaca (ought to read) (Saunders, 1983 dalam Hardi, 2005). Fowler juga mengatakan bahwa perpustakaan merupakan intitusi pembelajaran yang melahirkan inovasi-inovasi sehingga menuntut perpustakaan bersifat pro-aktif dengan terus meningkatkan kualitas dan efisiensinya karena tantangan pada tingkat perguruan tinggi adalah kompetisi (Hardi, 2005). Dalam lingkungan yang kompetitif, peran perpustakaan adalah sebagai salah satu produk yang bisa ditawarkan, sehingga kualitas produk tersebut akan menjadi sesuatu yang penting.

Salah satu indikator kualitas dan efisiensi perpustakaan bisa dilihat dari jumlah kunjungan pengguna. Dimana sangat minimnya pemanfaatan perpustakaan oleh staf pengajar. Dari data tersebut, bisa dikatakan bahwa perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi di perguruan tinggi tidak menjadi satu-satunya tempat tujuan staf pengajar dalam menemukan informasi. Atau dengan kata lain, perpustakaan sebagai sumber informasi yang merupakan salah satu elemen dalam konsep perilaku informasi, bukanlah preferensi staf pengajar dalam mencari informasi.

Secara ideal perpustakaan perguruan tinggi harus dikembangkan sejalan dengan kurikulum dan model pembelajaran yang dijalankan universitas. Artinya adalah bahwa perpustakaan harus menjadi sumber informasi utama yang mampu menyediakan kebutuhan informasi penggunanya.

Implementasi Kebijakan MENPAN NOMOR 132/KEP/M.PAN/12/2002 Tentang Angka Kredit Bagi Jabatan Pustakawan

June 17th, 2008

Salah satu komponen yang menentukan keberhasilan layanan perpustakaan di perguruan tinggi adalah sumber daya manusia (manpower). Sumber daya manusia di perpustakaan menurut UU No. 43 Tahun 2007 terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. Yang dimaksud dengan tenaga teknis perpustakaan adalah tenaga non-pustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi perpustakaan, misalnya tenaga teknis komputer, tenaga teknis audio-visual, dan tenaga teknis ketatausahaan. Sedangkan yang dimaksud dengan pustakawan adalah seseorang yang memiliki kapabilitas, integritas, dan kompetensi di bidang perpustakaan.

Pustakawan sebagai profesi yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan informasi yang diperlukan oleh masyarakat. Pustakawan ini melakukan aktivitas dokumentasi, kearsipan, record management, sampai pada manajemen ilmu pengetahuan/knowledge management. Seorang pustakawan harus memiliki kompetensi-kompetensi profesional, kepribadian dan perilaku, etika profesi, kemandirian, kesejawatan, organisasi profesi, dan kompetensi teknologi informasi. Dengan memiliki kompetensi tersebut nantinya masyarakat dan pemerintah akan mengakui/memberikan kepercayaan kepada mereka sebagai perilaku yang profesional.

Namun apabila diperhatikan lebih lanjut, pengakuan dan sekaligus penghargaan yang diberikan pemerintah terhadap profesi pustakawan tersebut sebenarnya mengandung makna yang dalam, yaitu bahwa dengan adanya pengakuan atas jabatan pustakawan tadi bukan semata-mata sebagai penghargaan atas peran sertanya dalam membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan juga merupakan upaya pemerintah guna meningkatkan profesionalisme pustakawan. Berarti dapat dikatakan bahwa jabatan pustakawan pada dasarnya merupakan suatu tantangan bagi pustakawan. Tantangan yang harus disadari dan dihadapi dengan sikap positif, sehingga profesionalisme harus benar-benar menjadi kesatuan yang utuh bagi setiap pustakawan.

Dengan adanya Keputusan MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 semakin memberi kesempatan guna pengembangan profesi dunia kepustakawanan. Berlakunya jenjang fungsional bagi pustakawan merupakan bukti dari sikap dan kebijaksanaan dari pemerintah terhadap pengembangan profesi pustakawan. Kondisi ini menunjukkan kesadaran bahwa sebagaimana profesi lain, dukungan profesi kepustakawanan dalam pembangunan bangsa di era informasi ini akan sangat berperan.

Kelanjutan SK MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 ini adalah implementasinya ke dalam lingkungan kerja perpustakaan, dokumentasi, dan informasi di instansi-instansi pemerintah, karena SK MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 ini ditetapkan untuk PNS. Namun dalam kenyataannya suatu kebijaksanaan yang baik belum tentu bisa berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan bahwa pustakawan dapat bekerja secara mandiri, dan melangkah pada jenjang karirnya. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh implementasi kebijaksanaan itu sendiri.

Kenaikan pangkat/jabatan yang diharapkan lebih cepat sesuai dengan peluang yang ada ternyata belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh pustakawan. Keterlambatan kenaikan pangkat melalui jenjang fungsional pustakawan merupakan petunjuk rendahnya produktivitas pustakawan. Oleh karena itu perlu ditelaah penyebabnya.

Data yang ada di Departemen Pertanian, misalnya, pustakawan diangkat pertama kali pada periode Oktober 1990 – September 1991 berdasarkan SK MENPAN No. 18 tahun 1988, sebanyak 184 orang. Sampai dengan bulan Agustus 2000, jumlah pustakawan menurun menjadi 131 orang, dan tahun 2002 tinggal 113 orang. Menurunnya jumlah pustakawan tersebut disebabkan 21 orang diberhentikan, 20 orang pensiun, 18 orang pindah ke departemen lain, 10 orang mengundurkan diri, dan 2 orang meninggal dunia. Pustakawan mengundurkan diri atau diberhentikan karena belum mampu memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan. Dari pustakawan yang masih aktif, 28% dapat naik pangkat dan jabatan dengan perincian 3% naik pangkat dan jabatan dalam waktu dua tahun empat bulan, 6% dalam waktu tiga tahun, 17% empat tahun, 20% lima tahun, dan 28% enam tahun (Ma’arus dalam Permana, 2003). Dengan demikian, hampir 50% pustakawan Departemen Pertanian naik pangkat dan jabatan dalam waktu lebih dari empat tahun.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, kiranya jelas bahwa jumlah pustakawan yang dapat naik pangkat/jabatan dengan menggunakan angka kredit secara lancar masih rendah.

Integrasi Mikro-Makro

June 17th, 2008

Ekstremisme Mikro – MakroSalah satu pembagian utama dalam teori Sosiologi Amerika abad ke-20 telah menimbulkan konflik antara teori mikroskopik ekstrem dan makroskopik ekstrem dan antarteoritisinya. Pembagian secara ekstrem dan penafsiran atas kedua jenis teori itu cenderung meningkatkan citra tentang besarnya perbedaan antara teori mikro dan makro dan lebih umum lagi meningkatkan citra konflik dan kekacauan dalam teori sosiologi. Di sisi ekstrem makro adalah fungsional struktural, teori konflik, dan beberapa jenis teori neo-Marxian (terutama determinisme ekonomi dan Marxisme struktural). Di sisi ekstrem mikro adalah interaksionisme simbolik, etnometodologi, teori pertukaran, dan teori pertukaran rasional.Pergeseran Menuju Integrasi Mikro – Makro

Di tahun 1980-an baru terdapat perkembangan karya tentang hubungan mikro-makro. Beberapa teoritisi memusatkan perhatian untuk mengintegrasikan teori mikro-makro, sedangkan teorisi lain memusatkan perhatian untuk membangun sebuah teori yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dari analisis sosial. Eisenstadt dan Helle menyimpulkan bahwa konfrontasi antara teori-teori mikro dan makro sudah berlalu, sedangkan Munch dan Smelser sampai pada kesimpulan serupa mengenai perlunya memilih antara penekanan perhatian pada tingkat mikro dan makro. Ada perbedaan penting anatara upaya untuk mengintegrasikan teori makro (misalnya, fungsionalisme struktural) dan teori mikro (misalnya, interaksionisme simbolik) dan upaya untuk membangun sebuah teori yang dapat menjelaskan hubungan antara analisis sosial tingkat mikro dan analisis sosial tingkat makro.

Menurut Gurvitch, kehidupan sosial dapat dikaji dari segi lima level “horizontal� atau level mikro-makro: bentuk-bentuk sosialitas, pengelompokan, kelas sosial, struktur sosial, dan struktur global. Untuk melengkapi hirarki ini, Gurvitch juga menawarkan sepuluh level “vertikal� atau “dalam� dimulai dengan fenomena sosial yang paling objektif (misalnya, faktor ekologis, organisasi) dan diakhiri dengan fenomena sosial yang paling subyektif (misalnya, ide dan nilai kolektif, pikiran kolektif. Gurvitch memotongkan dimensi vertikal dan horizontal untuk mendapatkan banyak level analisis sosial.

Karya Ritzer tentang integrasi paradigma sosiologi sebagian dimotivasi oleh kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana berdasarkan pemikiran Gurvitch itu. Dimulai dengan kontinum mikro-makro (tingkat horizontal model Gurvitch) bergerak dari pemikiran dan tindakan individual ke sistem dunia. Terhadap kontinum mikro-makro ini ditambahkan kontinum objektif-subjektif (tingkat vertikal model Gurvitch) yang bergerak dari fenomena material, seperti tindakan individual, dan struktur birokrasi ke fenomena nonmaterial, seperti kesadaran, norma, dan nilai. Seperti Gurvitch, Ritzer menyilangkan dua kontinum ini, namun hasilnya dalam hal ini adalah empat tingkat analisis sosial yang jauh lebih mudah dikelola ketimbang sepuluh tingkat model Gurvitch. Berikut ini gambar yang melukiskan tingkat utama analisis sosial Ritzer.MAKROSKOPIK

I. Makro - ObjektifContoh: masyarakat, hukum, birokrasi, arsitektur, teknologi, dan bahasa

II. Makro – SubjektifContoh: budaya, norma, dan nilai

III. Mikro – ObjektifContoh: pola perilaku, tindakan, dan interaksi

IV. Mikro – SubjektifContoh: persepsi, keyakinan; berbagai segi konstruksi sosial tentang realita

<!–[if !vml]–><!–[endif]–> OBJEKTIF SUBJEKTIFMIKROSKOPIKMenurut Ritzer, seluruh fenomena sosial mikro dan makro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Dengan demikian konsekuensinya adalah terdapat empat tingkat utama analisis sosial dan sosiolog harus memusatkan perhatian pada hubungan dialektika dari keempat tingkat analisis ini.Baru-baru ini Ritzer menggunakan pendekatan integrasi mikro-makro dalam karyanya yang berjudul Expressing Amerika: A Critique of the Global Credit Card Society. Khususnya Ritzer menggunakan gagasan C. Wright Mills tentang hubungan antara persoalan personal tingkat mikro dan personal publik tingkat makro untuk menganalisis persoalan yang ditimbulkan oleh kartu kredit. Kesukaran personal adalah masalah yang memengaruhi seorang individu dan orang lain di sekitarnya. Pada tingkat makro, kumpulan utang konsumen telah menjadi masalah publik, karena besarnya dan pertumbuhan jumlah orang adalah meningkatkan utang kepada perusahaan yang mengeluarkan kartu kredit. Akibat samping utang konsumen yang bertambah besar ini adalah peningkatan angka kejahatan dan kebangkrutan perusahaan. Akibat samping lainnya di tingkat makro dan masalah publik adalah peran yang dimainkan pemerintah dalam mendorong memperbesar utang konsumen melalui kecenderungannya sendiri untuk menumpuk utang. Lebih penting lagi adalah peran yang dimainkan perusahaan kartu kredit dalam mendorong orang untuk berutang dengan melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan agar orang mengambil kartu kredit sebanyak-banyaknya.Sosiologi MultidimensionalJeffrey Alexander menawarkan apa yang ia sebut â€?logika teoritis baru untuk sosiologiâ€?. Logika baru ini memengaruhi â€?pemikiran sosiologi di setiap tingkat kontinum intelektualâ€?. Dengan semangat ini, Alexander menawarkan apa yang istilahkan sebagai sosiologi multidimensional. Alexander menunjukkan bahwa kontinum mikro-makro (tingkat analisis individual atau kolektif) meliputi cara keteraturan diciptakan dalam masyarakat. Di titik ujung makro dari kontinum, keteraturan tercipta dari luar dan berciri kolektif; artinya keteraturan diciptakan oleh fenomena kolektif. Di ujung mikro dari kontinum keteraturan berasal dari kekuatan internal dan bersifat individulistik; yakni, keteraturan berasal dari negosiasi individual.Ke dalam masalah keteraturan ini ditambahkan problem tindakan menurut pendirian Parsonsian klasik. Tindakan meliputi kontinum materialis-idealis yang sejajar dengan kontinum objektif-subjektif yang digunakan dalam integrasi paradigma sosiologi Ritzer. Di ujung material, tindakan dilukiskan sebagai instrumen rasional dan kondisional. Di ujung nonmaterial (idealis), tindakan adalah normatif nonrasional dan perasaan kasih sayang. Bila kita meyilangkan kontinum ketertiban dan tindakan Alexander kita menemui empat tingkatan analisis yang digunakan Ritzer. Meskipun Alexander menggunakan empat tingkat analisis yang sangat serupa dengan empt tingkat analisis yang digunakan Ritzer, terdapat perbedaan penting antara kedua model itu. Alexander memberikan prioritas pada teori-teori kolektif normatif dan memusatkan perhatian pada norma dalam kehidupan sosial. Ritzer menolak untuk memberikan prioritas pada salah satu tingkat dan menegaskan perlunya meneliti hubungan dialektika di kalangan dan antara seluruh keempat tingkat. Alexander bermaksud memberikan arti yang sangat penting pada fenomena makro (subjektif) dan akibatnya sumbangannya terhadap upaya mengembangkan sebuah teori yang mengintegrasikan fenomena mikro-makro sangat terbatas. Dapat dinyatakan bahwa Alexander termasuk teoritisi yang keliru itu karena ia secara keliru membuat generalisasi dari tingkat normatif-kolektif ke tingkat kehidupan sosial lainnya.Model dari Mikro ke MakroColeman memusatkan perhatian pada masalah hubungan dari mikro ke makro dan mengurangi arti penting masalah hubungan dari makro ke mikro. Model Coleman menjelaskan baik itu masalah dari makro ke mikro maupun masalah mikro ke makro, juga menjelaskan hubungan dari mikro ke makro. Meski menjanjikan, model ini dihadapkan dengan hubungan sebab akibat, pada aliran panah yang hanya ke satu arah. Model yang lebih memadai seharusnya model hubungan dialektika, seluruh panah menunjuk kedua arah sehingga memberikan umpan balik diantara semua tingkat analisis. Kelemahan utama pendekatan Coleman adalah karena ia hanya ingin memusatkan perhatian pada hubungan dari mikro ke makro saja.Dari situ, Allen Liska mencoba menanggulangi kelemahan tersebut. Ada dua keuntungan penggunaan model ini ketimbang pendekatan Coleman. Pertama, hasrat Liska untuk menjelaskan hubungan dari makro ke mikro. Kedua, rincian hubungan (panah a) antara kedua fenomena tingkat makro itu. Namun, seperti Coleman, Liska hanya menjelaskan hubungan kausal satu arah panah saja dengan demikian mengabaikan hubungan dialektika antara semua faktor itu.Liska menggunakan model terkenal untuk melukiskan fenomena makro. Pertama, agregasi atau mengumpulkan properti individual untuk menghasilkan karakteristik kelompok. Kedua, secara struktural dan ini meliputi hubungan antara individu di dalam sebuah kelompok. Ketiga, fenomena global meliputi apa yang biasanya dibayangkan orang sebagai karakteristik penting seperti hukum dan bahasa. Liska menyimpulkan bahwa teoritisi makro harus lebih banyak bekerja dengan pengumpulan dan teoritisi mikro harus lebih banyak bekerja dengan aktor kontekstual.Landasan Mikro Sosiologi MakroCollins memusatkan perhatian pada apa yang ia sebut â€?ikatan ritual interaksiâ€? atau ikatan â€?rantai individual dari pengalaman interaksi yang saling bersilangan dalam ruang dan mengalir sepanjang waktuâ€?. Collins juga menjauhkan diri dari teori makro dan perhatiannya terhadap fenomena tingkat makro. Collins berupaya menunjukkan mengapa â€?seluruh fenomena makroâ€? dapat ditafsirkan sebagai â€?kombinasi dari kejadian mikroâ€?. Secara spesifik ia menyatakan bahwa struktur sosial dapat ditafsirkan secara empiris menjadi â€?pola interaksi mikro yang berulang-ulangâ€?.Pendapat Collins tersebut didukung oleh Knorr Cetina tentang sangat pentingnya peran interaksi, namun dalam karyanya ia memberikan peran lebih besar baik terhadap fenomena kesadaran meupun fenomena tingkat makro.Aaro Cicourel, rekan menulis Knorr Cetina, berpendirian lebih integratif. Ia menyatakan â€?struktur mikro atau makro tak dapat dianalisis secara tersendiri; keduanya berinteraksi sepanjang waktu, meski ada yang hanya menekankan pada salah satu tingkat analisis sajaâ€?.Kembali ke Masa Depan: Sosiologi Figurasional Nobert EliasNobert Elias terlibat dalam upaya menanggulangi perbedaan mikro-makro dan lebih umum lagi untuk mengatasi kecenderungan sosiolog membedakan antara individu dan masyarakat. Yangpenting dalam bahasan ini adalah fakta bahwa gagasan tentang figurasi sosial ini dapat diterapkan baik di tingkat mikro maupun makro dan untuk setiap fenomena sosial antara kedua kutub mikro dan makro itu. Figurasi adalah proses sosial yang menyebabkan terbentuknya jalinan hubungan antara individu. Figurasi bukanlah sebuah struktur yang berada di luar dan memaksa relasi antara indvidu; figurasi adalah antar hubungan itu sendiri. Individu dipandang sebagai terbuka dan saling tergantung; figurasi tersusun dari kumpulan individu tersebut. Kekuasaan adalah penting dalam figurasi sosial, dan karena itu, berada dalam keadaan terus-menerus berubah.Pemikiran Elias tentang figurasi berkaitan dengan pemikiran bahwa individu adalah terbuka terhadap dan saling berhbungan dengan individu lain. Ia menyatakan bahwa kebanyakan sosiolog beroperasi dengan pemahaman tentang homo clausus, yakni â€?gambaran bahwa setiap orang akhirnya bebas secara mutlak dari semua orang lain, setiap orang menjadi individu di dalam dirinyaâ€?.Sejarah Tatakrama (Manners)Bila Weber dapat dilihat sebagai orang yang memusatkan perhatian pada rasionalitas masyarakat Barat, Elias memusatkan perhatian pada peradaban negeri Barat. Dalam studinya tentang sejarah tatakarama, Elias tertarik pada transformasi historis bertahap dari berbagai jenis perilaku biasa menurut arah yang kini akan kita sebut sebagai perilaku yang diadabkan (civilized). Menurutnya, proses peradaban dapat ditelusuri ke belakang ke zaman kuno, ke hari ini dan akan berlanjut ke masa depan. Peradaban adalah sebuah proses pengembangan terus-menerus. Perubahan ini tidak ditimbulkan secara sadar, tetapi secara tidak disadari.Fungsi-fungsi NaturalMasyarakat secara bertahap memperkuat pemberangusan komponen kesenangan positif tertentu dalam fungsi tertentu dengan memunculkan kegelisahan; atau lebih tepatnya, masyarakat membuat kesenangan menjadi bersifat â€?pribadiâ€? dan â€?rahasiaâ€? (yakni menekannya ke dalam diri individu) sembari mengembangkan pengaruh yang dianggap negatif – perasaan tak senang, perubahan perasaan, perasaan tak suka – sebagai satu-satunya perasaaan yang lazim dalam masyarakat.Secara menyeluruh The History of Manner memusatkan perhatian pada perubahan cara individu berpikir, bertindak, dan berinterksi. Pada umumnya memusatkan perhatian pada fenomena tingkat mikro. Akan tetapi, ada dua faktor yang menghalangi interpretasi semacam iu. Pertama, dalam karya itu meski ia juga membahas perubahan tingkat mikro (misalnya, perubahan di lingkungan istana), namun bersamaan dengan itu ia menyatakan bahwa struktur kepribadian dan struktur masyarakat berubah dalam keadaan saling berhubungan yang tak terpisahkan. Kedua, The History of Manner ditulis dengan kesadaran bahwa jilid keduanya, Power and Civility, memusatkan perhatian untuk menerangkan lebih rinci perubahan tingkat makro yang mengiringinya.Kekuasaan dan Kesopanan (Civility)Karya Elias yang lain adalah Power and Civility, yang lebih memusatkan perhatian pada analisis makroskopik,meski kemudian terang-terangan ia menolak perbedaan analisis mikro-makro. Kesulitan Elias dalam menjelaskan hubungan mikro-makro menurut pendekatan integratif tercermin dari fakta bahwa ia membedakan antara penelitian psikogenetik dan sosiogenetik. Dalam psikogenetik, orang memusatkan perhatian pada psikogenetik individual, sedangkan penelitian sosiogenetik mempunyai cakupan lebih luas dan mempunyai perspektif yang berjangkauan lebih panjang, yang memusatkan perhatian pada â€?struktur menyeluruh, tak hanya terfokus pada keadaan masyarakat tunggal, tetapi pada kehidupan sosial yang dibentuk oleh sekelompok khusus masyarakat-masyarakat yang saling tergantung dan pada keteraturan rentetan evolusinyaâ€?.Menurut Elias, peningkatan perbedaan fungsi sosial ini berkaitan erat dengan apa yang disebutnya â€?reorganisasi total susunan sosialâ€?. Ia melukiskan proses historis yang menjadi saksi kemunculan organ sentral masyarakat yang makin stabil yang memonopoli penggunaan kekuatan fisik dan pajak.Aspek yang menarik dari argumen Elias adalah bahwa ia mengakui pengendalian kemauan sendiri itu bukanlah suatu yang sempurna. Walau menguatnya pengendalian terhadap kemauan dapat mengurangi tindakan kekerasan, namun ia juga meningkatkan kebosanan dan kegelisahan. Makin panjangnya rantai ketergantungan tak hanya berkaitan dengan makin kuatnya pengendalian atas kemauan individual, tetapi juga berkaitan dengan makin meningkatnya kepekaan terhadap orang lain dan diri sendiri. Aspek sangat penting dari proses pemberadaban (civilizing) adalah mensosialisasikan generasi muda sedemikian rupa sehingga mereka mampu mengembangkan pengendalian diri sendiri.KepustakaanRitzer, George-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana, 2007

Sketsa Historis Teori Sosiologi: Tahun-tahun Kemudian

June 17th, 2008

Para sosiolog Amerika awal beraliran politik liberal dan tidak konservatif seperti kebanyakan teoritisi Eropa awal. Menurut Schwendinger dan Schwendinger (1974) menyatakan bahwa teori sosiologi Amerika awal membantu merasionalkan eksploitasi, imperialisme domestik dan internasional, serta ketimpangan sosial. Dengan demikian, liberalisme politik sosiolog awal ini mengandung implikasi konservatif yang sangat besar.Beberapa faktor yang berperan penting dalam perkembangan teori Amerika adalah industrialisasi dan urbanisasi. Roescoe Hinkle (1980) dan E. Fuhrman (1980) melukiskan beberapa konteks dasar yang mendorong bangunan teori yang menyangkut perubahan sosial. Sementara Arthur Vidich dan Stanford Lyman (1985) menunjukkan besarnya pengaruh Kristen, terutama ajaran Protestan, terhadap kemunculan sosiologi Amerika. Menurutnya, sosiologi merupakan �respon moral dan intelektual terhadap masalah kehidupan dan terhadap pemikiran lembaga dan keyakinan orang Amerika�Ciri lain sosiologi Amerika awal adaah berpaling dari perspektif historis dan searah dengan orientasi positivistik atau �ilmiah�. Sosiolog Amerika lebih cenderung mengarah pada upaya studi ilmiah terhadap proses-proses sosial jangka pendek daripada membuat interpretasi perubahan historis jangka panjang. Kebanyakan teoritisi Eropa menciptakan teori sosiologi, sedangkan teoritisi Amerika memanfaatkan landasan teoritis yang sudah disediakan itu.Berikut tokoh-tokoh yang secara historis berpengaruh terhadap teori sosiologi:Spencer (1820-1903). Spencer lebih berpengaruh terhadap sosiologi Amerika awal dikarenakan Spencer menulis dalam bahasa Inggris, sedangkn teoritisi lain tidak. Selain itu ia menulis dalam pengertian nonteknis yang menyebabkan karyanya mudah diterima oleh kalangan yang lebih luas. Teorinya bersifat menerangkan bagi masyarakat yang tengan menjalani proses industrialisasi.

William Graham Sumner (1840-1910). Pada dasarnya ia menganut pemikiran survival of the fittest dalam memahami dunia sosial. Seperti Spencer, ia melihat manusia berjuang melawan lingkungannya dan yang paling kuatlah yang akan berhasil mempertahankan hidupnya. Sistem teoritis ini cocok dengan perkembangan kapitalisme karena menyediakan legitimasi teoritis bagi ketimpangan kekuasaan dan kekayaan yang ada.

Lester F. Ward (1841-1913). Ward menerima gagasan bahwa manusia berkembang dari bentuk yang lebih rendah ke statusnya yang seperti sekarang. Ia yakin bahwa masyarakat kuno ditandai oleh kesederhanaan dan kemiskinan moral, sedangkan masyarakat modern lebih kompleks, lebih bahagia dan mendapatkan kebebasan lebih besar. Menurutnya, sosiologi tidak hanya bertugas meneliti kehidupan sosial saja, tetapi harus pula menjadi lmu terapan. Sosiologi terapan ini meliputi kesadaran yang menggunakan pengetahuan ilmiah untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Thorstein Veblen (1857-1929). Arti penting gagasannya terdapat dalam bukunya yang berjudul The Theory of the Leisure Class (1899/1994) memfokuskan pada konsumsi, bukannya produksi. Jadi karya ini mengantisipasi pergeseran dalam teori sosiologi dewasa ini yang berpindah dari fokus produksi menuju fokus konsumsi.Aliran ChicagoAlbion Small (1848-1926). Pendiri Jurusan Sosiologi Universitas Chicago tahun 1892. Pendapatnya mengarah kepada pandangan bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada reformasi sosial dan pandangan ini digabungkan dengan keyakinan bahwa sosiologi haruslah selalu ilmiah.W.I. Thomas (1863-1947). Pernyataan utamanya mucul pada tahun 1918 dengan diterbitkannya hasil riset ilmiah bersama Florian Znaniecki berjudul The Polish Peasant in Europe and America. Martin Bulmer melihatnya sebagai studi “landmark“ karena hasil studinya itu �memindahkan sosiologi dari teori abstrak dan riset kepustakaan ke studi dunia empiris dengan menggunakan sebuah kerangka teoritis. Selain itu terdapat juga pernyataan psikologi sosialnya yang paling terkenal adalah: “Bila manusia mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka akibatnya adalah nyata.“ Penekanannya adalah pada arti penting apa yang dipikirkan orang dan bagaimana pikirannya itu mempengaruhi apa yang mereka kerjakan. Sasaran perhatian psikologi sosial mikroskopik ini bertolak belakang dengan sasaran perhatian perspektif struktur sosial dan kultural pemikir Eropa seperti Marx, Weber, dan Durkheim. Inilah salah satu ciri khas produk teoritis aliran Chicago – interaksionisme simbolik.Robert Park (1864-1944). Ia mengembangkan minat yang besar dari aliran Chicago terhadap ekologi urban. Bersama Ernest W. Burgess, 1921, ia menerbitkan buku ajar sosiologi pertama yang berjudul An Introduction to The Science of Sociology.

Charles Horton Cooley (1864-1929). Ia mempelajari tentang aspek psikologi sosial dari kehidupan sosial. Cooley menekuni tentang kesadaran. Yang terkenal adalah konsep cermin diri (the looking glass self), yang menyatakan bahwa manusia memiliki kesadaran dan kesadaran itu terbentuk dalam interaksi sosial yang berlanjut. Selain itu adalah konsep kelompok primer, yakni kelompok yang hubungan antara anggotanya sangat akrab dan bertatap muka dalam arti saling mengenal kepribadian masing-masing. Baik Cooley maupun Mead menolak pandangan behavioristik tentang manusia, pandangan yang menyatakan manusia (individu) memberikan respon secara membabi buta dan tanpa kesadaran terhadap rangsangan dari luar. Ia menganjurkan sosiolog mencoba menempatkan diri di tempat aktor yang diteliti dengan menggunakan metode introspeksi simpatetik untuk menganalisis kesadaran itu. Sosiologi seharusnya memusatkan perhatian pada fenomena psikologi sosial seperti kesadaran, tindakan, dan interaksi.

George Herbert Mead (1863-1931). Pemikiran Mead perlu dilihat dalam konteks behaviorisme psikologi tentang pemusatan perhatian pada aktor dan perilakunya. Setelah kematian Mead dan pindahnya Park, mulai memudar Sosiologi Chicago.

Selain itu, sekelompok wanita juga membentuk organisasi reformasi sosial serta mengembangkan teori sosiologi rintisan. Diantara wanita itu adalah Jane Adams (1860-1935), C. P. Gilman (1860-1935), A. J. Cooper (1858-1964), Ida W. Barnett (1862-1931), Marianne Weber (1870-1954) dan B.P. Webb (1858-1943). Ciri-ciri utama teori mereka yang sebagian dapat menjelaskan bahwa teori itu mereka kemukakan dalam rangka upaya membangun sosiologi profesional. Karena perkembangan disiplin sosiologi meminggirkan sosiolog dan teoritisi sosiologi wanita, metode riset mereka sering dipadukan dengan praktik yang mereka lakukan sendiri, dan aktivitas para wanita itu dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan mereka sebagai �bukan sosiolog�.

W.E.B. Du Bois (1868-1963) dan Teori Ras. Ia tertarik pada ide-ide abstrak demi melayani hak-hak sipil, terutama untuk orang-orang Afrika Amerika. Studinya, The Philadelphia Negro (1899/1996), terhadap tujuh distrik di Philadelphia dan terkenal sebagai etnografi rintisan. Teorinya yang terkenal The Soul of Black Folk serta veil (selubung) yang menciptakan separasi yang jelas antara orang Afrika-Amerika dan kulit putih. Selain itu teori kesadaran ganda (double conciousness), perasaan akan “ke-dua-an� atau perasaan di pihak Afrika-Amerika yang melihat dan mengukur diri sendiri melalui mata orang lain.

Teori Sosiologi Hingga Pertengahan Abad 20

Pitirim Sorokin (1889-1968). Ia mendirikan jurusan sosiologi di Harvard dan mengangkat Talcot Parsons sebagai instruktur sosiologi.

Talcot Parsons (1902-1979). Pada tahun 1937, ia menerbitkan buku yang berjudul The Structure of Social Action. Buku ini penting karena: pertama, memperkenalkan teori-teori besar Eropa ke kalangan luas di Amerika. Kedua, Ia memusatkan perhatian pada karya Durkheim, Weber,dan Pareto. Ketiga, menjadi tonggak penyusunan teori sosiologi sebagai kegiatan sosiologi yang penting dan sah. Keempat, Ia menekankan penyusunan teori sosiologi khusus yang telah berpengaruh besar terhadap sosiologi. Ia lebih memusatkan perhatianpada sistem sosial dan fungsionalis struktural. Kekuatannya terletak pada hubungan antara struktur sosial berskala besar dan pranata sosial. Buku lainnya berjudul The Social System(1951), berkonsentrasi pada struktur masyarakat dan pada antarhubungan berbagai struktur itu. Perubahan dipandang sebagai proses yang teratur dan Parsons akhirnya menerima pemikiran neorevolusioner tentang perubahan sosial.

George Homans (1910-1989). Ia mencetuskan teori Pareto dan kemudian dijadikan buku yang bejudul An Introduction to Pareto (ditulis bersama Charles Curtis) tahun 1934. Selain itu, ia mengemukakan teori behaviorisme psikologi. Berdasarkan perspektif ini, ia membangun teori pertukaran.Di sini Harvard dan produk teoritis utamanya, fungsionalisme struktural, menjadi dominan dalam sosiologi di akhir tahun 1930-an dan menggantikan aliran Chicago dan interaksionisme simbolik.Herbert Blumer (1900-1987). Ia menciptakan ungkapan symbolic interactionism pada tahun 1937.Pada tahun 1900-an hingga 1930-an teori Marxian berkembang, disertai kemunculan aliran kritis atau aliran Frankfurt. Teori kritis menggabungkan pemikiran Marx dan Weber yang menciprakan istilah �Marxisme Weberian�. Aliran ini menggunakan teknik penelitian ilmiah yang dikembangkan oleh sosiolog Amerika untuk meriset masalah minat terhadap pemikiran Marxis. Teoritisi kritis berupaya menyatukan teori yang berorientasi Freudian dengan pemikiran Marx dan Weber di tingkat sosialdan kultural.Karl Manheim (1893-1947). Ia terkenal karena membedakan antara dua sistem gagasan – ideologi dan utopia. Ideologi adalah sistem gagasan yang mencoba menyembunyikan dan melestarikan keadaan kini dengan menginterpretasikannya dari sudut pandang masa lalu. Sebaliknya, utopia adalah sistem gagasan yang mencoba melampaui keadaan kini dengan memusatkan perhatian pada masa datang.Teori Sosiologi dari Pertengahan Abad 20Era 1940-an dan 1950-an adalah tahun paradoks antara puncak dominasi dan awal kemerosotan fungsionalisme struktural.George Huaco (1986) mengaitkan pertumbuhan dan kemerosotan fungsionalisme struktural dengan posisi masyarakat Amerika dalam tatanan dunia.C. Wright Mills (1916-1962). Ia menerbitkan dua karya utama: pertama, White Collar yakni pekerja berkerah putih. Kedua, The Power Elite (1956) merupakan buku yang menunjukkan betapa Amerika didominasi oleh sekelompok kecil pengusaha, politisi dan pimpinan tentara. Selain itu, ia menerbitkan buku yang berjudul The Sosiological Imagination (1959). Buku ini mengandung kritikan keras Mills terhadap Parsons dan terhadap praktik teori besarnya.

Dahrendorf . Karya utamanya Class and Class Conflict in Indutrial Society (1959) berpengaruh dalam teori konflik karena banyak menggunakan logika struktural-fungsional yang memang sesuai dengan logika sosiolog aliran utama.

George Homans (1910-1989). Lahirnya teori pertukaran dan ia menggunakan pendekatan behaviorisme paikologi Skinner. Ia menerbitkan buku Social Behavior: Its Elementary Forms. Menurutnya jantung sosiologi terletak dalam studi interaksi dan perilaku individual. Perhatian utamanya lebih tertuju pada pola-pola penguatan (reinforcement), sejarah imbalan (reward), dan biaya (cost) yang menyebabkan orang melakukan apa-apa yang mereka lakukan.

Erving Goffman (1922-1982). Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku Presentation of Self in Everiday Life, diterbitkan tahun 1959. Menurutnya interaksi dilihat sangat rapuh, dipertahankan oleh kinerja sosial. Kinerja sosial yang buruk atau kacau merupakan ancaman besar terhadap interaksi sosial sebagaimana yang terjadi pada pertunjukan teater.Alfred Schutz (1899-1959). Ia memusatkan perhatian pada cara orang memahami kesadaran orang lain sementara mereka hidup dalam aliran kesadaran mereka sendiri. Ia juga menggunakan perspektif intersubjektivitas dalam pengertian lebih luas untuk memahami kehidupan sosial, terutama mengenai ciri sosial pengetahuan. Secara keseluruhan Schutz memusatkan perhatian pada hubungan dialektika antara cara individu membangun realitas sosial dan realitas kultural yang mereka warisi dari para pendahulu mereka dalam dunia sosial.Bila para sosiolog fenomenologi cenderung memusatkan perhatian pada apa yang dipikirkan orang, sosiolog etnometodologi mencurahkan perhatian pada studi terinci tentang percakapan orang. Etnometodologi pada dasarnya adalah studi tentang kumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dapat dipahami anggota masyarakat biasa dan yang mereka jadikan sebagai landasan untuk bertindak.Akhir 1960-an ditandai perkembangan teori Marxian dalam teori sosiologi Amerika. Dan berawal di penghujung 1970-an, muncul teori baru yang menantang teori sosiologi yang sudah mapan – dan bahkan menantang sosiologi Marxian sendiri. Cabang pemikiran sosial radikal terakhir inilah yang dimaksud dengan teori feminis kontemporer. Teori feminis melihat dunia dari sudut pandang wanita untuk menemukan cara yang signifikan, tetapi tak diakui dimana aktivitas wanita – yang disubordinasikan berdasarkan jender dan dipengaruhi oleh berbagai praktik stratifikasi seperti kelas, ras, umur, heteroseksual yang dipaksakan, dan ketimpangan geososial – membantu menciptakan dunia. Teori ini berinteraksi dengan perkembangan aliran post-strukturalis dan post-modern. Ketika strukturalisme tumbuh di dalam sosiologi, di luar sosiologi berkembang pula post-strukturalisme.Michael Foucault (1926-1984). Ia memusatkan perhatian pada struktur, tetapi kemudian ia beralih keluar struktur, memusatkan perhatian pada kekuasaan dan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan.Perkembangan Terkini dalam Teori SosiologiBanyak karya dalam teori sosiologi Amerika yang memusatkan perhatian pada hubungan antara teori-teori mikro dan makro serta menyatukan antara berbagai tingkat analisis. Ada empat tingkatan utama analisis sosial yang harus dijelaskan menurut cara yang terintegrasi: subjektivitas makro, objektivitas makro, subjektivitas mikro, dan objektivitas mikro.Sejalan dengan pertumbuhan minat terhadap analisis integrasi mikro-makro di Amerika, di Eropa orang memusatkan perhatian pada analisis integrasi agen-struktur. Ada empat upaya analisis utama dalam teori sosial Eropa masa kini yang dapat dihimpun:

  • Teori strukturisasi Anthony Gidden (1984), melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu sama lain.
  • Margaret Archer (1982) menolak pendapat yang menyatakan agen dan struktur dapat dipandang sebagai dualitas, tetapi lebih melihatnya sebagai dualisme.
  • Piere Bourdieu dalam bukunya, masalah agen-struktur diterjemahkan menjadi pemusatan perhatian terhadap hubungan antara habitus dan bidang atau lapangan (field).
  • Jurgen Habermas menjelaskan masalah agen-struktur di bawah judul â€?kolonisasi kehidupan-duniaâ€?.Gerakan di atas membuka jalan untuk gerakan lebih luas menuju sintesis teoritis yang dimulai sekitar awal tahun 1990-an. Terdapat dua aspek khusus karya sistesis baru dalam teori sosiologi. Pertama, sintesis yang sangat luas dan tak terbatas pada upaya sintesis yang terpisah. Kedua, sintesis yang bertujuan menyintesiskan pemikiran teoritisi yang relatif sempit dan tidak mengembangkan teori sintesis besar yang meliputi semua teori sosiologi.Semua teoritisi klasik besar (Max, Weber, Durkheim, dan Simmel) memikirkan dunia modern.
  • Anthony Giddens menggunakan istilah seperti modernitas â€?radikalâ€? atau â€?tinggiâ€?. Ia melihat modernitas sekarang sebagai â€?juggernautâ€? yang lepas kontrol.

Menurut Ulrich Beck (1992), modernitas yang baru muncul ini paling tepat dilukiskan sebagai �masyarakat berisiko�. Jurgen Habermas melihat modernitas sebagai proyek yang belum selesai. Sedangkan post-modernitas adalah sejarah baru yang dianggp telah menggantikan era modern atau modernitas. Teori sosial post-modern adalah cara berpikir baru tentang post-modernitas; dunia sudah demikian berbeda sehingga memerlukan cara berpikir yang sama sekali baru.Teori-teori yang Perlu Diperhatikan di Awal Abad 21Teori Sosial MultikulturalKarakteristik teori multikultural adalah:

  • Penolakan terhadap teori universalistik yang cenderung mendukung pihak yang kuat; teori multikultural berupaya memberdayakan pihak yang lemah.
  • Teori multikultural mencoba menjadi inklusif, menawarkan teori atas nama kelompok-kelompok lemah.
  • Teoritisi multikultural tidak bebas nilai; mereka sering menyusun teori atas nama pihak lemah dan bekerja di dunia sosial untuk mengubah struktur sosial, kultur dan prospek untuk individu.
  • Teoritisi multikultural tidak hanya berusaha mengganggu dunia sosial tetapi juga dunia intelektual; mereka mencoba menjadikannya lebih terbuka dan beragam.
  • Tidak ada usaha untuk menarik garis yang jelas antara teori dan tipe narasi lainnya.
  • Teori multikultural sangat kritis; kritik itu adalah kritik terhadap diri dan kritik terhadap teoritisi lain serta terhadap dunia sosial.
  • Teoritisi multikultural mengakui bahwa karya mereka dibatasi oleh sejarah tertentu, konteks kultural dan sosial tertentu, dimana mereka pernah hidup dalam konteks tersebut.

Teori Sosial Post-ModernTeori ini cenderung mendefinisikan masyarakat post-modern sebagai masyarakat konsumen, dengan akibat bahwa konsumsi memainkan peran penting dalam teori itu.Teori Konsumsi

Terdapat peningkatan dalam karya teoritis tentang konsumsi. Sebagai contoh karya teoritis yang didasarkan pada setting dimana kita mengonsumsi, misalnya Consuming Places (Urry, 1995), Enchanting a Disechanted World: Revolutionizing the Means of Consumption (Humphery, 1998).

Teori Aktor-Jaringan

Teori ini sangat dipengaruhi oleh strukturalisme dan post-strukturalisme.Teori GlobalisasiTeori ini muncul karena semakin mengglobalnya dunia sosial.Jadi, karena dunia sosial (dan intelektual) terus-menerus berubah, kita dapat mengantisipasi aliran perkembangan teori baru yang didesain untuk menjelaskan dan menangani perubahan-perubahan tersebut.

Atribut yang Mempengaruhi Kinerja

June 17th, 2008

Menurut Suhernik (2006:72) perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang jasa layanan informasi yang menyediakan beragam informasi dalam berbagai bentuk baik cetak maupun non cetak. Keberadaan perpustakaaan diharapkan sebagai pilar-pilar kokoh penunjang penyelenggaraan pendidikan dan penyebaran informasi yang mampu melayani masyarakat pengguna dengan baik. Efisiensi dan efektifitas keberadaan perpustakaan dapat diketahui melalui sejauh mana kinerja perpustakaan tersebut.

Salah satu faktor yang menunjang efektivitas kinerja perpustakaan adalah sumber daya manusia. Kinerja lembaga atau perpustakaan berhubungan erat dengan kinerja perorangan (pustakawan), yang berarti apabila kinerja masing – masing individu di lembaga baik maka kinerja lembaga juga baik.

Dalam meningkatkan kinerja pustakawan untuk melaksanakan kegiatan fungsional maka perpustakaan seharusnya memperhatikan hal – hal yang berhubungan dengan masalah motivasi karena dengan motivasi diharapkan setiap pustakawan bersedia bekerja keras dan antusias untuk mencapai kinerja yang tinggi.

Tetapi, menurut Danuyasa dalam Komalasari (ritasyafei@yahoo.com) menyatakan bahwa motivasi relatif tidak penting sebagai penentu unjuk kerja terjadi bila seseorang kurang kemampuan dasarnya untuk melaksanakan tugas yang ada di tangannya. Dengan demikian, kinerja seorang pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi yang dimiliki pegawai tersebut melainkan juga ditentukan dari kemampuan dasar yang dimilikinya.

Persepsi Dosen Terhadap Pemanfaatan Perpustakaan

June 17th, 2008

Perpustakaan merupakan salah satu bagian dari kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan penelitian. Keberadaan perpustakaan sangat penting dan strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Oleh karena itu, sebagai lembaga pelayanan masyarakat, perpustakaan perlu lebih proaktif mengikuti perkembangan informasi dan berupaya memperolehnya untuk memenuhi keperluan pengguna.

Sebagai sarana pendidikan dan sarana belajar bagi masyarakat, perpustakaan juga dituntut untuk dapat membimbing pengguna agar mandiri dalam mencari dan menemukan kembali informasi yang dibutuhkan. Kartosedono (1995) mengemukakan bahwa dengan segala potensi dan kemampuannya, perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan diarahkan untuk dapat berperan sebagai agen modernisasi masyarakat. Beberapa hasil studi kepustakawanan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara kepuasan pengguna dan layanan yang diberikan perpustakaan. Lancaster (1977) menyatakan bahwa kepuasan pengguna terhadap layanan perpustakaan antara lain ditentukan oleh kinerja pelayanan yang mampu menekan sekecil mungkin tingkat kesalahan dan berusaha memberikan yang terbaik terhadap permintaan pengguna; responsif terhadap keinginan pengguna; kompeten dalam melayani disertai kemampuan teknis dan etika komunikasi yang baik; akses terhadap informasi relatif mudah, cepat dan akurat; ruangan dan peralatan penunjang tertata dengan baik dan nyaman. Pendapat tersebut diperkuat oleh George dan Walls (1983) yang menyatakan bahwa selain kelima faktor yang dikemukakan Lancaster, masih ada beberapa aspek yang tidak boleh dikesampingkan oleh pengelola perpustakaan, yaitu kualitas koleksi yang disajikan harus menampilkan isi dan fisik yang maksimal; ketersediaan koleksi memenuhi kebutuhan pengguna, lengkap dan beragam serta mudah ditemukan; fasilitas temu kembali seperti katalog dan indeks tersedia; staf perpustakaan bersikap peduli, ramah, ahli, serta senantiasa bersedia membantu pengguna; dan waktu layanan yang telah ditentukan dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.

Sebuah perpustakaan yang dikelola dengan baik dan dapat menempati peran yang penting dan strategis, melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik akan memberikan sejumlah nilai atau manfaat. Jika ditinjau dari berbagai segi, sebuah perpustakaan mengandung sejumlah nilai positif bagi penyelenggara maupun para pemakainya. Hanya saja, karena satu dan lain hal, maka belum semua nilai yang semestinya ada tersebut belum dapat dicapai. Atau mungkin saja, baik bagi pengelola maupun pengguna perpustakaan belum/tidak sepenuhnya menyadari adanya nilai-nilai tersebut. Dengan memahami, menyadari, dan kemudian mengambil hikmahnya ada kemungkinan merupakan salah satu pendorong untuk berusaha memanfaatkan perpustakaan secara lebih berdaya guna. Menurut Sutarno (2005), dimensi nilai-nilai yang terkandung pada perpustakaan tersebut adalah nilai pendidikan, nilai informasi, nilai ekonomi, nilai sejarah dan dokumentasi, nilai sosial, nilai budaya, nilai demokrasi dan keadilan, nilai perubahan, serta nilai hiburan atau rekreasi.

Namun kenyataannya pada perpustakaan perguruan tinggi, jumlah dosen yang memanfaatkan jasa perpustakaan masih relatif sedikit. Pengguna perpustakaan, khususnya dosen, terdiri dari banyak sekali kelompok, strata sosial, lingkungan pendidikan, etnis suku, kebudayaan, agama, dan kepercayaan, serta masih banyak lagi. Oleh karena itu sikap, pandangan, cara berpikir, wawasan dan persepsi terhadap sesuatu juga berbeda. Akibat keterbatasan dari informasi dan komunikasi maka respon terhadap perpustakaan tidak sama. Hal ini menyebabkan persepsi pengguna, khususnya dosen, dalam memanfaatkan jasa perpustakaan juga tidak sama. Informasi dan komunikasi antara perpustakan dan pengguna merupakan sesuatu yang sangat penting karena tanpa adanya informasi dan komunikasi tersebut maka tidak pernah ada keterkaitan. Oleh karena itu kedua belah pihak perlu dibangun untuk menjalin hubungan yang baik, yakni hubungan saling membutuhkan, saling menginginkan dan saling mengisi. Pada satu sisi perpustakaan menghendaki bahwa perpustakaan itu dimanfaatkan oleh penggunanya, dengan berbagai layanan dan fasilitasnya. Sementara di sisi lain pengguna membutuhkan informasi dan pengetahuan yang ada di perpustakaan guna menambah pengetahuan, wawasan, pengalaman dan ketrampilan. Untuk mengembangkan informasi dan komunikasi tersebut semestinya dibuka jalur komunikasi misalnya dengan upaya sosialisasi perpustakaan melalui media cetak dan elektronik, mengadakan berbagai aktivitas yang melibatkan pengguna dan mengadakan penelitian tentang kebutuhan pengguna. Pada akhirnya komunikasi dan informasi yang efektif akan membuka dan memperlebar akses antara perpustakaan dan penggunanya.

AYO DUKUNG ANAK GEMAR MEMBACA!

April 25th, 2008

Kebanyakan anak-anak menghabiskan waktunya untuk bermain, nonton televisi daripada membaca. Mungkin bagi mereka, membaca adalah kegiatan yang membosankan. Tetapi, sebenarnya membaca bisa memungkinkan anak untuk mengembangkan bakat-bakat yang ada padanya, menghidupkan dan memperluas perhatiannya, dapat menghidupkan motivasi belajar guna memperkaya pengetahuan, melahirkan ketrampilan dan memperluas pandangan hidup. Untuk memotivasi anak, disini orang tua, pendidik / sekolah, pecinta buku, dan lingkungan sangat berpengaruh dalam proses menumbuhkan minat baca pada anak untuk mencapai kepribadian yang matang. Karena membaca adalah menyangkut perkembangan intelektualitas, dan pengaruh intelektualitas itu akan tercermin terhadap perkembangan mentalitas anak.

Tingkat pendidikan orang tua berperan penting dalam pembentukan jenis cara mengasuh anak yang menyumbang perkembangan motivasi anak. Selain itu, faktor sosial-ekonomi keluarga mempengaruhi perkembangan minat baca. Semakin tinggi taraf ekonomi, makin banyak buku yang dibaca. Begitu juga tingkat pendidikan orang tua, banyak sekali menentukan sikap anak terhadap minat membaca, termasuk kemampuan memahami tema yang dibahas. Jika anak mencintai buku yang baik dan memiliki minat baca yang besar, maka anak akan berkembang lebih maju, baik dalam hasil sekolahnya maupun dalam menghadapi masalah-masalah hidup di masa yang akan datang.Kebudayaan membaca bukan hanya monopoli mereka yang berbakat saja, namun kebiasaan ini pun dapat dibentuk melalui pengaruh lingkungan dengan menciptakan kondisi atau situasi yang dapat menggairahkan semangat pembaca, misalnya menyiapkan ruangan dan peralatan yang sesuai, buku-buku tersedia secara cukup memadai baik kualitas maupun kuantitasnya. Melalui buku-buku (khususnya buku cerita) dapat mengembangkan bukan hanya IQ anak (kecerdasan intelektual) tetapi juga EQ anak (kecerdasan emosi).            Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang tua untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak dimulai sejak dini, memberikan rangsangan yang baik yakni bisa dengan penyediaan akan bahan pustaka yang cukup, memberikan pengarahan kepada anak supaya jangan sampai mereka mendapatkan atau menyukai bacaan yang nilai edukatifnya kurang atau sama sekali tidak mendidik, melainkan merusak jiwa. Orang tua tidak usah melarang anak yang membaca bacaan yang tidak sejalan dengan pelajarannya selama bacaan itu tidak mengganggu pelajarannya dan selama anak punya waktu luang untuk membaca bacaan kegemarannya.            Anak-anak juga perlu untuk mengetahui kegunaan / manfaat dari cinta membaca, sebab adanya pengertian ini akan melahirkan kesadaran pada dirinya akan kegunaan kegiatan yang mereka lakukan itu sehingga akan timbul anggapan bahwa membaca adalah kebutuhan hidup dan menjadikan membaca sebagai keperluan mendesak dalam upaya memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.            Untuk mewujudkan minat baca pada anak bisa didukung dengan diadakannya lomba-lomba, pameran buku, tentunya perlu mendapat perhatian dari kalangan pemerintah agar harga buku bisa ditekan, salah satu caranya ialah memberikan fasilitas kepada penerbit-penerbit buku agar dapat memberikan dan menyediakan buku yang bisa terjangkau oleh masyarakat umum. Ayo budayakan membaca!

MEMBACA? PENTING NGGAK SIH?

April 25th, 2008

Buku mempunyai peran yang tidak kecil dalam mendorong perkembangan sosial, budaya, teknologi, politik dan ekonomi. Tetapi, buku-buku saja tanpa adanya kegiatan membaca yang bermutu tak akan ada manfaatnya. Membaca adalah jantung pendidikan. Menurut Francis Baron, “Membaca menciptakan manusia yang lengkap�. Dewasa ini banyak teknologi mutakhir yang kian mewabah. Media elektronik, khususnya internet, telah mewarnai kehidupan kita dan mulai memasuki ruang belajar kita. Hal ini dapat menghambat perkembangan media cetak. Namun, agaknya media cetak, buku, tak bisa dengan mudah tergantikan. Joko D. Muktiono menyebutkan bahwa hal ini dikarenakan kebanyakan pengguna internet ternyata tak ingin membaca materi yang ditampilkan layar komputer. Karena kecepatan membaca lewat layar lebih lambat di atas 25 persen daripada lewat kertas. Akibatnya memahami materi teks lebih sulit dilakukan lewat layar. Dan juga internet cenderung merusak konsentrasi karena mendorong penggunanya untuk klik sana klik sini. Dengan kata lain, internet sama sekali tidak mengajarkan konsentrasi yang konstan, upaya yang tekun, kesabaran untuk mengakses situs atau halaman web yang sama terus-menerus. Tak ayal, internet lebih banyak dipakai sebagai hiburan daripada sebagai alat untuk belajar (Muktiono, 2003 : 2).Pada zaman sebelum kemerdekaan, sekolah yang merupakan tempat menimba ilmu, diperuntukkan bagi lapisan bangsawan dan anak pamong praja yang mempunyai gaji tinggi. Setelah kemerdekaan, dengan adanya revolusi besar-besaran banyak sekolah-sekolah yang didirikan untuk semua lapisan masyarakat. Namun, bersamaan dengan bersekolahnya anak-anak Indonesia belumlah dicapai suatu budaya tulis. Budaya lisan masih berlanjut. Misalnya, dalam belajar bahasa asing, menghadapi kata-kata baru, siswa lebih suka bertanya (kepada ibu, ayah, kakak, atau guru) daripada mencarinya di kamus.Sejalan dengan majunya zaman, tuntutan melek huruf tidak cukup hanya dengan bisa membaca saja tanpa didukung tradisi membaca yang solid. Anak-anak harus diajari sejak sangat dini dengan melalui proses mengkondisikan secara halus untuk akrab dan kemudian terbiasa dengan kegiatan membaca. Menurut Joko D. Muktiono, ada tiga faktor yang menghambat seorang anak untuk mencapai tingkat membaca terampil, yaitu kesulitan memahami dan menggunakan prinsip abjad serta kurangnya pemahaman arti kata, kegagalan mentransfer keterampilan komprehensi bahasa lisan untuk membaca dan untuk mendapatkan strategi-strategi baru yang dibutuhkan dalam membaca, tiadanya motivasi awal untuk membaca atau kegagalan mengembangkan penghargaan terhadap pentingnya membaca (Muktiono, 2003 :11).Kecintaan membaca bangsa ini perlu dibina dan dikembangkan sejak dini. Oleh karena itu, kita perlu menyebarkan kecintaan membaca kepada orang-orang di sekeliling kita, terutama anak-anak. Orang tua sangat berperan dalam mengembangkan kecintaan membaca dan mendorong antusiasme dalam melaksanakan kegiatan ini.Sebaiknya anak-anak dibantu untuk gemar membaca pada setiap saat, kapan saja sejak keingintahuannya muncul. Semenjak anak dilahirkan sampai mencapai usia remaja, sesungguhnya anak terbuka untuk menerima pengarahan. Karena sejak ia bayi sudah mempunyai rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa dan fungsi mental. Dan di masa remaja merupakan masa perkembangan penyempurnaan dan perluasan cakrawala inteligensi, minat, sikap kritis.Mereka yang sejak dini mengenal banyak bacaan akan lebih mudah menyerap informasi yang mereka terima. Dengan membanjirnya bahan informasi, mereka dituntut kemampuannya untuk membaca cepat. Dimana menurut Bobbi DePoter dan Mike Hernacki dalam Quantum Learning membagi empat macam ragam kecepatan membaca, yakni regular, melihat dengan cepat (skimming), melihat sekilas (scanning), dan kecepatan tinggi (warp speed).Dengan membaca buku, selain pengetahuan akan semakin bertambah, pribadi akan semakin kaya, yang kesemuannya jelas akan menurunkan efek negatif anak, yakni kenakalan.Sedangkan anak yang tidak terbina minat bacanya sejak dini akan menghadapi peluang yang semakin kecil untuk mengembangkan pengetahuan setinggi-tingginya. Di samping itu, anak itu akan menghadapi hambatan dalam penguasaan bahasa yang berakibat pada kesukaran pemahaman informasi.Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang multilingual (memiliki banyak bahasa). Sebelum mengenal bahasa Indonesia, pada umumnya mereka mengenal bahasa daerah terlebih dahulu. Sehingga tak heran jika tradisi membaca dan menulis hanya berkembang di lingkungan terbatas. Karena tidak semua bahasa daerah memiliki huruf untuk menuliskannya. Minat baca di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan mendengar dan menonton. Hal ini dibuktikan oleh Departemen Penerangan, bahwa kebiasaan mendengarkan (radio) sebanyak 80% dan kebiasaan menonton (televise) sebanyak 65% dari jumlah penduduk Indonesia. Oleh karena itu, minat baca anak perlu dibina agar dapat berkembang sebaik-baiknya.Menurut seorang periset Amerika Jeanne S. Chall dalam Stages Of Reading Development membaca sesuai tingkat usia dan pengalaman pendidikannya, digolongkan dalam enam tingkatan ideal, yakni :

  1. Tingkat 0 : pre-reading dan pseudo-reading, 6 tahun ke bawah
  2. Tingkat 1 : membaca awal dan decoding, 6-7 tahun
  3. Tingkat 2 : konfirmasi dan kelancaran, 7-8 tahun
  4. Tingkat 3 : membaca untuk belajar, 9-14 tahun
  5. Tingkat 4 : kerumitan dan kompleksitas, 14-17 tahun
  6. Tingkat 5 : konstruksi dan rekonstruksi, 18 tahun ke atas

(Jeanne dalam Muktiono, 2003 : 24)            Sangat banyak aspek-aspek yang baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan kegiatan membaca pada anak. Misalnya latar belakang bahasa, pengalaman, sikap dan minat, persepsi, motivasi serta kesanggupan-kesanggupan anak lainnya (Sayono, 1983). Menurut pakar tafsir Al Quran, Dr. M. Quraish Shihab, kata “iqra� terambil dari kata “qara’a� yang berarti menghimpun (menghimpun makna). Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca merupakan aktivitas “memahami�. Membaca akan sangat efektif jika disertakan dengan proses memaknai. Dengan membaca dapat memperluas wawasan dan memperkaya perspektif. Jika membaca dengan tekun, memahami serta memaknai, maka akan mencintai kegiatan membaca. Menurut Mary Leonhardt, kecintaan membaca identik dengan kecintaan untuk mempelajari sesuatu yang baru atau yang akan terjadi. Dengan adanya kegemaran membaca, secara otomatis akan dapat membaca dengan baik. Misalnya dengan memberikan catatan atau memberikan tanda. Kegiatan membaca harus dibiasakan sejak dini. Karena dengan kebiasaan itu lama-kelamaan akan membentuk watak seorang anak. Membaca merupakan salah satu aktivitas terpenting dalam hidup kita. Karena dengan tidak membaca kita semakin tidak tahu dengan perkembangan yang ada di era globalisasi sekarang ini. Apalagi dengan semakin maraknya dunia internet.            Menurut Mary Leonhardt, dalam bukunya Parents Who Love Reading, Kids Who Don’t, ada perbedaan antara anak memang gemar membaca dengan hanya sekadar mengerjakan tugas membaca. Anak yang gemar membaca cenderung lebih sukses. Leonhardt menyertakan mereka yang gemar membaca dengan yang suka bermain basket atau memasak. Studi menunjukkan, mereka yang paling kompeten, membaca 144 kali lebih banyak.            Apabila di masyarakat kita minat baca berkembang, maka akan menguat pula harapan kita bahwa akan makin besarlah kemungkinannya berhasil upaya kita meningkatkan mutu pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.            Broughton dan Geoffrey dalam bukunya Teaching English as a Foreign Language (1978 : 211), menyebutkan dua aspek membaca, yaitu : (1) aspek ketrampilan mekanis, dan (2) aspek ketrampilan pemahaman. Aspek pertama, yaitu ketrampilan mekanis meliputi beberapa hal berupa pengenalan bentuk huruf, pengenalan unsur-unsur linguistik, pengenalan hubungan bunyi dan huruf, dan kecepatan membaca. Sedangkan aspek kedua, yaitu ketrampilan pemahaman meliputi beberapa hal berupa pemahaman pengertian sederhana, pemahaman signifikasi atau makna, evaluasi atau penilaian isi dan bentuk, kecepatan membaca.            Pengembangan minat dan kebiasaan membaca yang baik harus dimulai sejak dini pada masa anak-anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi seorang anak untuk berkenalan dengan buku. Seperti dikatakan Horton dan Pant (1991), bahwa fungsi keluarga bukanlah semata-mata hanya melakukan fungsi reproduksi atau fungsi perlindungan, tetapi keluarga juga bertanggung jawab melakukan fungsi sosialisasi, termasuk di dalamnya mendidik anak agar memiliki perilaku gemar membaca, yakni dengan membina akhlaknya, membina rasa sosialnya, membina rasa kebangsaannya, membina kecerdasannya, termasuk pula membina minat bacanya. Peranan kedua orang tua sangat besar dalam menanamkan rasa cinta buku kepada anak-anaknya. Proses ini dimulai sejak usia pra sekolah.            Menurut Bu Kasur, seorang tokoh pendidikan anak, menjadi pencetus gagasan “dongeng sebelum tidur� di Indonesia. Konsep yang melibatkan interaksi orang tua-anak ini juga dianjurkan oleh ahli-ahli pendidikan Barat, yaitu membacakan suatu cerita kepada anak setiap hari, sebagai pengantar tidur (www.glorianet.org/keluarga/anak/anakbuku.htm, Dunia Anak : Mengajar Anak Mencintai Buku). Sehingga dengan adanya hal tersebut akan terjadi afeksi dan perhatian orang tua dalam kegiatan tersebut. Dalam hal ini merupakan jurus yang ampuh untuk mempererat hubungan orang tua dan anak. Bagi orang tua yang kreatif, akan membuat kegiatan membaca itu menjadi lebih menarik sehingga dapat dijadikan daya tarik bagi anak untuk menumbuhkan minat baca. Dan menurut Joko D. Muktiono (2003 :30). Saat membacakan buku, orang tua bisa berdialog dengan anak, meminta anak untuk mengulang, menebak atau meneruskan kalimat yang sengaja dihentikan sebelum selesai.            Selain orang tua, sekolah merupakan lembaga yang juga bertanggung jawab dalam pembinaan minat baca setelah orang tua / keluarga. Perpustakaan sekolah sangat besar pengaruhnya dalam upaya menumbuhkembangkan minat baca. Berbagai upaya telah dilakukan oleh perpustakaan sekolah untuk membina minat baca seperti  mengadakan lomba minat baca, melakukan program wajib baca, menugaskan siswa untuk menyusun abstrak dari buku-buku yang dibaca, lomba membaca buku atau menulis yang baik, resensi buku, lomba kliping, deklamasi, dan sebagainya.            Para orang tua, pendidik (sekolah) harus mengenalkan buku pada anak-anak karena anak-anak tidak akan mencari / menginginkan buku bacaan atas keinginannya sendiri karena mereka belum mengerti manfaat membaca buku dan juga karena tidak ada teladan dari orang tua. Selain itu, harga buku sering tidak terjangkau oleh uang saku anak.            Dengan demikian, keluarga, sekolah dan masyarakat sama pentingnya bagi upaya kita mengembangkan minat baca ; satu dan lainnya saling melengkapi.            Salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca anak adalah melalui bercerita. Karena hal ini lebih mudah dimengerti oleh anak-anak. Sebaiknya orang tua membiasakan dirinya untuk bercerita kepada anaknya sebelum tidur. Bagi orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hendaknya menyisihkan waktunya sebentar untuk berinteraksi dengan anaknya guna menumbuhkan minat baca anak. Kebiasaan membacakan cerita sebelum tidur ini selain mengandung aspek pendidikan, juga menjadi saat-saat yang berharga untuk menjalin hubungan emosional antara orang tua dan anak. Dalam www.Glorianet.org/keluarga/anak/anakbuku.htm, Dunia Anak : Mengajar Anak Mencintai Buku, Bu Kasur menyarankan agar orang tua menghadiahkan buku kepada anak-anak sebagai tradisi keluarga. Kado ini jauh lebih bermanfaat ketimbang hadiah kue, pakaian, atau makanan pada hari Natal, ulang tahun, kenaikan kelas, atau pada kesempatan-kesempatan khusus lainnya. Jenis buku yang diberikan hanya sesuai dengan usia dan tingkat intelektual anak. Selain itu, pengadaan ruang baca atau perpustakaan kecil di rumah juga dapat menjadi pendorong bagi anak untuk gemar membaca. Ayah dan ibu yang gemar membaca pun akan menjadi contoh yang utama bagi anak-anak untuk menyukai buku.            Sebagai orang tua juga harus membina minat baca anak. Pembinaan minat baca ini mencakup empat macam kegiatan dalam usaha pembinaan minat baca, yaitu merencanakan program penumbuhan dan pengembangan minat baca, mengatur pelaksanaan program, mengendalikan pelaksanaan program serta menilai pelaksanaan program penumbuhan dan pengembangan minat baca di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat.            Para orang tua perlu melakukan pembinaan minat baca kepada anak-anaknya karena dapat dijadikan sebagai sumber kegiatan, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan tolok ukur atau parameter keberhasilan upaya menumbuhkembangkan minat baca.            Untuk membangkitkan kegemaran membaca pada anak, mengamati dunia di sekelilingnya merupakan langkah awal. Kemudian membantunya untuk menyusun persepsi / pandangan anak menjadi konsep-konsep yang mempunyai arti.             Kebanyakan anak-anak yang tidak suka membaca biasanya di rumahnya tidak ada tempat bagi buku atau majalah dan tidak pula terdapat suasana kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya minat baca pada seluruh anggota keluarga.            Kurangnya minat baca pada anak juga disebabkan karena membaca baru merupakan kewajiban, belum merupakan keperluan penting dalam upaya meningkatkan ilmu pengetahuan. Agar hal ini bisa diatasi, maka untuk menumbuhkan minat baca harus dipicu dengan sistem pendidikan yang berintegrasi, serta didukung perpustakaan. Sehingga anak-anak di sekolah diharuskan untuk selalu berhubungan dengan perpustakaan.            Kurangnya minat baca di kalangan masyarakat terpelajar (anak-anak sekolah) menurut Amin Mansoer (Antara, 2 Sepember 1983, “Sistem Pendidikan Berintegrasi Pacu Minat Baca�), merupakan gejala yang umum di negara berkembang akibat berbagai masalah yang menghambat, seperti mahalnya buku ilmu pengetahuan. Sedangkan di negara maju, masalah itu hampir tidak ada. Misalnya di Jepang, membaca buku dalam usaha memperdalam ilmu pengetahuan tidak hanya kebutuhan namun sudah merupakan hal yang harus diburu.            Menurut para ahli, mengenalkan buku sudah bisa dimulai sejak anak berusia tiga bulan. Menurut Morphett dan Washburne (1931), umur anak yang paling baik untuk memulai belajar membaca adalah sekitar enam tahun. Sementara itu menurut Steinberg (1982), waktu untuk memulai membaca anak pada dasarnya bisa dimulai ketika anak berusia 1-4 tahun. Jadi, pada dasarnya waktu untuk memulai membaca anak bisa pada usia semuda-mudanya dimana menurut Pflaum (1974), hal itu dapat dilakukan asalkan mempunyai minat, dapat menyebut bunyi huruf, dapat mengingat kata-kata, mempunyai kemampuan membedakan dengan baik, dan memiliki perkembangan bahasa lisan dan kosa kata yang memadai.            Dalam rangka menumbuhkan minat baca pada anak, para orang tua juga harus tetap memperhatikan pemilihan buku yang tepat, yakni memilihkan buku yang lebih memberikan manfaat untuk tujuan membaca mereka dan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak. Selain itu, dalam pemilihan buku, orang tua juga harus mempertimbangkan usia, perkembangan, minat, kecenderungan, dan kebutuhan anak. Menurut Riris K. Toha Sarumpaet, buku yang baik adalah buku yang temanya sesuai dengan kehidupan anak, tokohnya dapat dikenali dan dipercaya oleh anak, alur ceritanya cukup sederhana atau mungkin kompleks untuk sebagian anak tertentu dengan kemampuan membaca yang cukup tinggi, kalimatnya lincah dan langsung dengan struktur yang baik dan logis, dilengkapi dengan ilustrasi, kemasan dan ketebalannya yang memadai buat anak (Muktiono, 2003 : 60).            Pada pengembangan minat baca pada anak akan lebih mudah dilaksanakan jika didasarkan pada pengalaman langsung. Seorang anak masih sangat memerlukan keteladanan membaca. Jadi, sangat penting dalam memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anak. Dan anak-anak menyimpannya dengan cara mempraktikkan secara berulang-ulang hal yang mereka lihat dan dengar. Karena pengalaman yang didapat dari membaca mereka itu menyenangkan, maka mereka rela menyisihkan sebagian waktu mereka untuk membaca. Dan sebaliknya, jika mereka mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dalam membaca baik di lingkungan sekolah, hingga teman-teman sebaya yang mencemoohkan para kutu buku, maka mereka akan trauma dengan kegiatan membaca. Ditambah lagi masa-masa dalam kehidupan mereka ketika minat atau ketertarikan tertentu mempengaruhi waktu baca mereka. Misalnya, jadwal sekolah yang padat dapat menyebabkan terhentinya kegiatan membaca untuk sementara waktu.            Cara membuat anak gemar membaca harus adanya dorongan / motivasi, terutama dari orang tua untuk membimbingnya supaya mau membaca dan ingin membaca untuk kemudian berkembang sendiri menjadi gemar membaca.            Jika anak mencintai buku yang baik dan memiliki minat baca yang besar maka anak akan berkembang lebih maju, baik dalam hasil sekolahnya maupun dalam menghadapi masalah-masalah hidup di masa yang akan datang. Melalui buku-buku (khususnya buku-buku cerita) dapat mengembangkan IQ anak (kecerdasa intelektual) dan juga EQ anak (kecerdasan emosi).            Penelitian yang dilakukan Butler dan Clay (1981) menyatakan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga pembaca, dimana orang tua selalu memperhatikan dan mendorong minat dan keingintahuan anak, maka kemungkinan anak itu juga akan memiliki perilaku gemar membaca. Bagaimanapun baiknya mutu sekolah, kalau orang tua tidak ikut aktif memperhatikan dan membantu anak di rumah, anak tidak akan mencapai kemajuan sebagaimana mestinya, termasuk kemampuan anak dalam membaca.            Menurut Tampubolon (1993), beberapa sarana di lingkugan yang bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak adalah toko buku, perpustakaan, pos surat, televisi, plaza dan toko swalayan, nama jalan atau kantor, dan obyek-obyek lain yang namanya tertulis dan bisa dibaca. Untuk merangsang anak gemar membaca, sudah tentu tidak cukup semata-mata hanya melihat toko buku, perpustakaan, dan sebagainya, tetapi para orang tua juga perlu meminjam atau bahkan menyediakan anggaran khusus untuk membeli koran, majalah, atau buku-buku yang diminati dan cocok bagi anak-anaknya.

MENANAM INVESTASI PADA ANAK MELALUI MINAT BACA

April 25th, 2008

Buku merupakan fondasi yang kokoh bagi perkembangan mental dan spiritual seorang anak. Selain sebagai sumber pengetahuan, buku juga berfungsi sebagai salah satu sarana komunikasi. Semakin sering anak berkomunikasi dengan buku, semakin banyak pengertian dan pengetahuan yang didapatnya. Dan dengan berkomunikasi sangat penting bagi pengembangan kepribadian manusia. Di tengah keberhasilan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, salah satu masalah yang masih terlihat adalah mengenai minat baca anak. Sering kita lihat bahwa kebanyakan anak menyentuh buku yang hanya berhubungan dengan mata pelajarannya di sekolah sehingga anak kurang terekpos kepada beragam jenis buku, dan pengalamannya membaca kurang berkembang. Minat baca masyarakat Indonesia masih terbilang sangat rendah. Menurut  Direktur Utama “Pikiran Rakyat� Bandung (PRB), H. Syafik Umar, bahwa di Indonesia konsumsi satu surat kabar untuk empat puluh lima orang (1:45) sedangkan di negara tetangga seperti Srilangka sudah 1:38 dan Filipina 1:30. Padahal, idealnya satu surat kabar dibaca oleh sepuluh orang atau 1:10. Beberapa ahli ada yang menyatakan bahwa saat ini anak Indonesia baru sampai pada gemar mendengar atau melihat dan belum sampai pada taraf gemar membaca. Kedudukan buku yang semakin memprihatinkan dengan datangnya media elektronik yang semakin menjamur. Salah satunya internet. Media elektronik yang satu ini mempunyai andil yang tidak kecil dalam menghambat perkembangan media cetak, terutama buku. Meskipun demikian, buku tak bisa dengan mudah tergantikan.Menanam investasi pada anak melalui minat baca itu sangat penting dikarenakan: pertama, anak merupakan generasi penerus bangsa, jika kita membiasakan anak untuk gemar membaca, maka membaca bisa menjadi kebutuhan bagi mereka sehingga mereka akan kaya dengan informasi.Kedua, kebanyakan anak menyentuh buku yang hanya berhubungan dengan mata pelajarannya di sekolah sehingga anak kurang terekpos kepada beragam jenis buku, dan pengalamannya membaca kurang berkembang. Hal ini dikarenakan ada prioritas yang kurang tepat atau fokus yang keliru dalam proses belajar-mengajar dalam dunia pendidikan kita. Secara teknis guru-guru dirongrong hanya untuk mengejar target pencapaian kurikulum sehingga secara tidak langsung para siswa dituntut hanya untuk menghafal. Dengan demikian, buku-buku tidak begitu dianggap dalam proses pendidikan kita.Pertimbangan ketiga untuk mengangkat objek ini yaitu banyak anak yang tidak peduli akan keberadaan buku. Hal ini kesalahan tidak terletak pada anak karena selama ia belum dewasa dan mampu mandiri, orang tualah yang bertanggung jawab atas segala yang menimpa anak-anak mereka. Hal ini dikarenakan pola didik / kebiasaan / kecintaan yang diterapkan orang tua atas pentingnya buku sangat minim.Keempat, gejala yang menyebabkan kurangnya minat baca yaitu karena tingginya harga buku dan anggapan bahwa buku tidak terlalu penting dalam hidup kita serta kurangnya perhatian pemerintah terhadap persoalan ini. Dengan tingginya harga buku maka hanya kalangan terbatas yang mampu mengkonsumsinya dan jarang ada perpustakaan yang menyediakan buku dalam jumlah yang dan kualitas yang memadai. Kesimpulan ini bisa benar , bisa juga tidak. Di kalangan keluarga yang hidupnya berkecukupan atau secara ekonomi serba pas-pasan, mungkin benar bahwa faktor tingginya harga buku menjadi penghambat bagi tumbuhnya minat baca pada anak. Untuk kalangan ke bawah, buku merupakan barang mewah dan menjadi kebutuhan hidup nomor kesekian. Karena biasanya untuk kehidupan sehari-hari saja mereka cukup sulit. Kalaupun kelebihan uang dari hasil bekerja, mereka lebih cenderung untuk disimpan guna memenuhi kebutuhan konsumsi daripada dipergunakan untuk membeli buku bagi anak-anak.Tetapi ironisnya, kebanyakan kalangan keluarga yang kehidupan ekonominya mampu (dalam artian kaya), anggota keluarganya (baik orang tua maupun anak-anaknya) tidak mempunyai minat baca yang baik. Mereka menganggap remeh tentang arti dari sebuah buku. Mereka lebih menyukai menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli barang-barang lainnya dari sebuah buku. Hanya segelintir warga masyarakat yang hidup berkecukupan rela menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku bagi anak-anaknya. Biasanya mereka yang hidup serba berkecukupan lebih menyukai untuk pergi shopping ke mall-mall, ikut kursus senam atau pergi ke pusat hiburan daripada pergi ke toko-toko buku / pameran buku atau bahkan enggan untuk mengajak anak-anaknya pergi ke perpustakaan. Sedangkan di negara maju, para orang tua lebih senang mengajak anak-anaknya untuk pergi ke toko-toko buku, perpustakaan atau pameran buku. Bahkan mereka rela antri berpuluh-puluh meter untuk melihat pameran buku. Sehingga dari kebiasaan itu, anak-anak Indonesia lebih terbiasa diajak orang tuanya untuk mengenal barang-barang konsumtif daripada mendidik anak-anak mereka untuk mencintai buku atau bacaan umum lainnya.Selain itu bila melihat kehidupan sekarang ini, dengan datangnya berbagai macam media elektronik, khususnya televisi, yang banyak menyita perhatian anak-anak. Kebanyakan anak lebih menyukai menonton televisi daripada membaca buku. Karena televisi menawarkan banyak program acara yang menyenangkan. Dan didukung pula dengan akses untuk mengkonsumsi produk-produk hiburan tersebut sangat mudah dan sangat instan. Jika mereka lebih terbius dengan kemudahan menikmati semua produk hiburan dan kesenangan itu, maka anak-anak akan lebih mudah untuk meninggalkan buku-buku.Para orang tua kebanyakan lebih senang membelikan anak-anak mereka permainan elektronik, seperti video game atau play station daripada menghadiahkan buku-buku yang bermanfaat. Para orang tua juga lebih menyukai anak-anak mereka untuk duduk diam berjam-jam menonton acara-acara televisi daripada melihat anak-anaknya keluyuran di luar rumah. Menurut mereka, asalkan anak-anak mereka tidak keluyuran dan betah tinggal di rumah, itu sudah dinilai cukup. Mereka tidak terlalu memusingkan apakah anak-anak mereka gemar membaca atau tidak. Padahal penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa TV menyala rata-rata selama 7¼ jam setiap hari. Menurut dokter spesialis anak dan pakar peneliti dalam bidang perkembangan anak dari Universitas Harvard, Dr. Berry Brazelton, mengemukakan bahwa satu jam merupakan batas menonton maksimal bagi anak-anak usia 5-6 tahun. Lebih dari satu jam, tayangan-tayangan TV menjadi semacam racun yang mereduksi kemampuan daya nalar dan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah.Pertimbangan lain adalah faktor minat atau dorongan, waktu dan kecepatan membaca. Biasanya barulah muncul minat membaca jika anak merasa sangat butuh. Dan biasanya anak enggan membaca karena menghabiskan banyak waktu menekuni buku. Bagi orang yang mempunyai prinsip time is money, mereka lebih menekuni aktivitas bisnis dan karirnya. Karena banyak orang yang beranggapan tanpa membaca pun jika kita menggunakan waktu sebaik-baiknya kita dapat menghasilkan uang. Jika kita mampu memecahkan persoalan dari keempat faktor tersebut, ditambah niat yang sungguh-sungguh, kemungkinan besar kita akan segera bisa berada dalam kebiasaan membaca.Kegiatan membaca yang lebih banyak disukai di kalangan anak-anak Indonesia hanya pada buku sejenis komik atau novel picisan yang sama sekali tidak menambah kreativitas dan pikiran kritis anak-anak yang membacanya.Menurut pandangan orang tua bahwa usaha untuk menumbuhkan minat baca anak-anak semata-mata hanyalah dianggap sebagai tugas pendidik, guru atau sekolah sebagai sebuah lembaga akademis / formal. Pandangan seperti ini jelas-jelas salah karena usaha untuk menumbuhkan perilaku membaca sebenarnya adalah tugas kita semua, baik sekolah, masyarakat / lingkungan sekitar, pemerintah dan terutama orang tua.Masyarakat atau lingkungan sekitar juga merupakan salah satu faktor dalam menumbuhkan minat baca pada anak. Hal itu dikarenakan apabila anak-anak yang hidup dan tinggal bersama dalam lingkungan masyarakat yang kurang meminati buku dan kurang menghargai aktivitas membaca. Oleh karena itu, langkah awal yang kita ambil yaitu dengan mentradisikan kegiatan membaca dalam keluarga masing-masing.Keluarga disebut sebagai lembaga yang paling utama dalam merangsang tumbuhnya minat baca. Hal itu dikarenakan minat baca itu sendiri sebenarnya sudah bisa dilatih dan ditumbuhkan sebelum anak mengenal bangku sekolah, yakni sejak anak-anak berusia 2-3 tahun. Dalam hal ini, orang tua dituntut bukan cuma untuk harus rela menyisihkan dana untuk membelikan buku bagi anak-anak mereka. Tetapi, lebih dari itu orang tua juga dituntut untuk senantiasa memberi contoh dan memperlihatkan kepada anak-anaknya bahwa mereka sendiri juga gemar membaca. Sangat tidak logis jika orang tua menghendaki anak-anak mereka gemar membaca sementara orang tua itu sendiri terkesan malas membaca. Perilaku orang tua sangat mempengaruhi sikap anak-anaknya. Bila orang tua gemar membaca, maka kemungkinan anak-anak mereka juga akan gemar membaca. Oleh karena itu, orang tua patut dijadikan suri tauladan guna merangsang tumbuhnya perilaku gemar membaca.